Sebelumnya
Kementerian ESDM memproyeksikan, pemanfaatan panel surya atau PLTS Atap akan mencapai 3,6 Gigawatt pada tahun 2025. Dan, pelanggan yang memiliki rumah minimal tipe 45, dengan kapasitas listrik 1.300 VA, akan jadi target potensial konsumennya. Jika ini tercapai, maka dampaknya terhadap lingkungan cukup bagus.
Potensi penurunan emisi, mencapai 4,58 juta ton CO2 ekuivalen, dari total reduksi 170 juta ton CO2 ekuivalen di tahun 2030. Selain itu, juga ada peluang bagi Pemerintah mendapatkan Rp60 miliar per tahun dari penjualan karbon. Asumsinya, CO2 ekuivalen dihargai 2 USD per ton.
Salah satu upaya untuk mempercepat bauran ini, Pemerintah perlu melirik peran dan potensi kalangan generasi muda. Mereka memiliki idealisme dan sangat mendukung transisi energi bersih Indonesia. Pemanfaatan PLTS Atap, misalnya, diperkirakan akan menyerap 121.500 pekerja.
Baca juga : Proyeksi Dan Strategi Politik Dan Ekonomi Kaum Muda Di Era Disrupsi
Data dari Badan Pusat Statistik menyebut, 30 persen jumlah penduduk Indonesia di tahun 2021 adalah generasi usia di bawah 25 tahun. Proyek pengembangan energi alternatif beberapa tahun ke depan, sudah pasti mengincar tenaga kerja di generasi ini. Bahkan, generasi ini akan memegang kendali proyek-proyek EBT dalam 5-10 tahun lagi.
Karenanya, mereka harus disiapkan mulai sekarang. Melalui pembelajaran atau training yang sudah cukup tersedia di publik, atau melalui program Pemerintah di Kampus Merdeka.
Patut diapresiasi yang dilakukan oleh Kementerian ESDM untuk anak-anak muda penggiat energi bersih. Kementerian telah melahirkan program Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya atau Gerilya untuk mahasiswa Indonesia, yang bahkan bisa dinilai dan dikonversi setara 20 SKS. Ini salah satu aksi nyata Pemerintah untuk peningkatan kapasitas anak muda yang kelak akan jadi generasi pengganda pengembangan energi baru terbarukan di tanah air.
Baca juga : Airlangga: Pemerintah Siap Gelar Presidensi G20 Untuk Optimalkan Manfaat Bagi Indonesia
Melalui Gerilya, mereka bukan sekedar belajar tapi juga mendapatkan pengalaman bekerja melahirkan proyek-proyek energi bersih di lingkungannya. Di sini juga terbuka peluang job creation, penciptaan lapangan kerja, melalui berbagai jenis perusahaan rintisan (start up) di sektor PLTS Atap. Jika ini dilakukan, maka sejatinya kita telah melakukan upaya gotong royong dalam penyediaan listrik melalui pengembangan energi alternatif.
Kebijakan Pemerintah sudah on the track. Kini, pertanyaan dan tantangan selanjutnya, ada pada kita semua. Jika ingin segera beralih ke energi yang bersih dan ikut menjaga iklim dunia, maka marilah mulai membangun energi alternatif di rumah atau lingkungan kita masing-masing. ***
Oleh: Zagy Yakana Berian
Baca juga : Setiap Rupiah Uang Yang Keluar Sudah Dilaporkan
Penulis adalah Founder Society of Renewable Energy (SRE)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.