BREAKING NEWS
 

Siap Jalankan Perintah Erick Thohir

Frekuensi Penerbangan Garuda Naik 32 Persen

Reporter : IRMA YULIA
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 23 Agustus 2022 07:30 WIB
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra. (Foto: ANTARA).

 Sebelumnya 
Ia melihat, meskipun dilakukan percepatan pencairan PMN oleh Pemerintah, namun penurunan harga tiket pesawat tetap membutuhkan waktu.

Terlebih kenaikan harga tiket dikarenakan faktor melonjaknya harga avtur secara global. “Yang dominan sekarang, memang harga avtur, sama seperti BBM (Bahan Bakar Minyak), mengikuti harga global. Naiknya sudah di atas 50 persen,” katanya.

Selain itu, faktor demand masyarakat untuk bepergian pun, khususnya penerbangan internasional juga belum kembali normal.

“(Penumpang) domestik memang mulai bergerak, tapi penerbangan internasional kan masih terganggu, negara lain situasinya lagi krisis. Jadi, faktor demand juga berpengaruh pada tingginya harga tiket,” katanya.

Baca juga : B20 Siapkan Warisan Yang Inklusif Di Sektor Pendidikan Dan Ketenagakerjaan

Apalagi hampir seluruh maskapai mengalami kerugian selama dua tahun terakhir. Sehingga maskapai juga dituntut tetap berkompetisi, dengan menghadirkan layanan terbaik, namun harga yang lebih murah.

“Masalahnya, apa Garuda mau berperang di harga tiket?” tanyanya.

Pasalnya, pandemi Covid-19 sangat berdampak negatif bagi Garuda hingga mengalami kerugian yang cukup dalam. Bahkan, beberapa armada yang selama ini disewa juga telah dikembalikan ke lessor. Sehingga perlu waktu bagi Garuda Indonesia untuk bangkit kembali.

“Kalau mau beroperasi normal lagi, butuh investasi, financial ability-nya harus lebih bagus. Sementara Garuda masih ada utang. Sebaiknya dijaga dulu kinerjanya, setahun-dua tahun untuk recovery,” tuturnya.

Baca juga : Prestasi BUMN Yahud...

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi bersinergi dengan sejumlah pemangku kepentingan, untuk memastikan tingkat keterisian penumpang, memberikan subsidi dan insentif lainnya.

Pasalnya, tingkat keterisian (okupansi) pesawat di beberapa daerah hanya 50 persen, bahkan kurang dari itu. Sehingga Pemda didorong untuk turut memberikan subsidi dan memasarkan, agar okupansi penumpang pesawat meningkat.

“Kalau tingkat keterisian bisa naik, maka harga akan terkendali. Karena harga tiket berbanding lurus dengan tingkat keterisian,” bebernya, Kamis (18/8).

Ia menegaskan, meski harga avtur mengakibatkan harga tiket naik, tetapi ada strategi pengelolaan yang harus dikoordinasikan secara detail. Sehingga harga tiket bisa tetap terkendali dan tidak memberikan efek kenaikan inflasi yang terlalu tinggi.

Baca juga : Erick Thohir Populer Di Kalangan Elite Daerah

Mantan Direktur Utama Angkasa Pura ll ini mencontohkan, upaya yang telah dilakukan untuk mengendalikan harga tiket di tengah naiknya harga avtur dunia.

Misalnya, sambung dia, kebijakan pengenaan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 0 (nol) terhadap Jasa Pendaratan, Penempatan dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U), yang berlaku di Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU).

“Kami juga meminta kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk memberlakukan relaksasi PPN (Pajak Pertambahan Nilai) pada tiket dan fuel (avtur),” pungkasnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense