BREAKING NEWS
 

Genjot Ekspor, BI Pangkas Suku Bunga Jadi 5,75 Persen

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : MUHAMAD FIKY
Senin, 22 Juli 2019 05:59 WIB
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari 6 persen menjadi 5,75 persen diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kinerja ekspor hingga akhir tahun. 

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan, penurunan suku bunga diharapkan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan untuk menjaga stabilitas eksternal. 

“Kami melihat dampaknya terhadap neraca pembayaran, ke ekspor dan impor biaya peminjaman (borrowing cost) dana dari perbankan akan lebih murah,” kata Dody. 

Ia juga memastikan, selain menggenjot ekspor, penurunan suku bunga acuan tidak memberikan dampak negatif bagi neraca transaksi finansial dan modal. “BI juga berupaya menjaga transaksi modal dan finansial untuk tetap surplus karena aliran modal asing yang masuk digunakan untuk mengkompensasi defisit transaksi berjalan. Artinya, kita jaga agar arus modal tidak keluar,” tegasnya. 

Baca juga : Lewat Ludruk, MPR Bangkitkan Semangat Persatuan

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI biasanya akan mendorong turunnya suku bunga kredit. Dengan suku bunga kredit yang lebih murah akan mendorong ongkos pembiayaan menjadi lebih murah. Dengan demikian industri/pengusaha bisa melakukan ekspansi. 

“Jika tren konsumsi meningkat ekspansi ini bisa bermuara pada pertumbuhan ekonomi di semester kedua,” kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka. 

Adsense

Meski penurunan suku bunga berdampak positif bagi perekonomian, namun Yusuf memprediksi, kecil kemungkinan penurunan suku bunga ini bisa membuat defisit anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berubah menjadi surplus. Malah ada potensi pelebaran defisit anggaran dari target yang ditentukan. 

Target defisit APBN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 1,8 persen terhadap, kemungkinan akan melebar di kisaran 2,0 persen terhadap PDB. “Penyebabnya, tidak tercapainya target penerimaan negara. Sampai semester I-2019 pertumbuhan penerimaan negara hanya mencapai 6 persen, angka ini dibawah pertumbuhan belanja negara yang mencapai 10 persen,” kata Yusuf. 

Baca juga : Genjot Ekspor Burung Wallet, Menteri Enggar Lobi China

Rendahnya penerimaam negara ini, kata dia, dipengaruhi beragam faktor seperti kondisi ekonomi global yang masih lesu karena dipengaruhi perang dagang. Sementara, dari dalam negeri melambatnya pertumbuhan industri manufaktur ikut menyumbang lambatnya penerimaan pajak.

 “Hal ini dikarenakan sektor manufaktur merupakan sektor terbesar penyumbang pajak,” tegasnya. 

Yusuf mengatakan, dari sisi APBN, untuk dapat membantu menggenjot pertumbuhan ekonomi, pemerintah bisa meningkatkan realisasi belanja modalnya yang sampai dengan semester I-2019 pertumbuhanya mencapai 6 persen. 

“Sampai akhir tahun, konsumsi masyarakat masih akan menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi. Dengan catatan target inflasi 3 persen plus minus 1, bisa dijaga,” tegas Yusuf. 

Baca juga : BI Pangkas Suku Bunga Jadi 5,75 Persen

Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dengan tujuan menurunkan suku bunga kredit sehingga rumah tangga dan dunia usaha bisa melakukan ekspansi. [NOV]


 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense