Sebelumnya
Modal Tak Cukup
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, Indonesia sebenarnya punya potensi cukup besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen sampai dengan 7 persen tiap tahun.
Baca juga : Ngeri Amat, Setiap Tahun, 969 Ribu Orang Indonesia Kena TBC
Namun sayang realitas di lapangan, progres pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun terakhir ini tidaklah begitu menggembirakan. Karena, rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya di angka 5 persen sehingga tidak cukup jadi modal untuk menjadi negara maju. Hal ini terjadi karena industri manufaktur Indonesia tidak tumbuh signifikan. Pertumbuhan industri manufaktur berada di kisaran 4 persen sampai 5 persen.
“Dan akhirnya ikut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, mengingat sektor manufaktur merupakan kontributor terbesar dalam PDB Indonesia,” kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : Teh Pucuk Harum Less Sugar Raih Penghargaan Dari PERGIZI PANGAN Indonesia
Selain itu, lanjut Yusuf, daya saing industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan dibandingkan negara lain.
Penurunan ini karena beragam faktor, termasuk faktor harga gas dan industri yang diterima oleh industri manufaktur di dalam negeri, jauh lebih mahal dibandingkan negara lain.
Baca juga : RTI Jadi Garda Terdepan Inovasi Pertamina
“Selain itu, rendahnya keterlibatan industri manufaktur Indonesia dalam rantai pasok global. Sehingga menutup peluang industri manufaktur Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Yusuf mengatakan, kondisi tersebut harus segera dibenahi agar visi Indonesia menjadi negara maju di 2045 bisa tercapai.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.