BREAKING NEWS
 

Kemenperin Genjot Hilirisasi Kakao

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Kamis, 24 Agustus 2023 19:31 WIB
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika. (Foto: Ist)

 Sebelumnya 
Sejauh ini, produk cokelat sebagian besar masih diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Konsumsi cokelat per kapita di dalam negeri meningkat dari 0,37 kg per kapit pada tahun 2018 menjadi 0,49 kg per kapitatahun 2022. Ekspor produk cokelat juga mengalami peningkatan dari 45 juta dolar AS pada 2018 menjadi 77 juta dolar AS di 2022 atau naik rata-rata 14,65 persen per tahun.

“Salah satu produk cokelat yang berkembang adalah cokelat artisan bean to bar atau yang sering juga dikenal sebagai craft chocolate,” ujar Putu. Saat ini, terdapat 31 perusahaan atau produsen cokelat artisan dengan kapasitas 1.242 ton per tahun.

Baca juga : Berani Lawan WTO, Bahlil Dipercaya Jokowi Jadi Benteng Hilirisasi Indonesia

“Produk craft chocolate sangat digemari oleh wisatawan mancanegara dan kalangan menengah atas di dalam negeri, karena menghasilkan produk dengan rasa yang unik yang didukung dengan cerita tertentu yang berasal dari daerah tertentu,” papar Putu.

Cokelat artisan biasanya diproses dari biji yang berasal dari daerah tertentu (single origin), misalnya craft bean to bar dari Ransiki (Papua), Berau (Kalimantan Timur), atau Jembrana (Bali) dan lain-lain. Produk cokelat artisan bean to bar memiliki nilai tambah yang paling tinggi. Sebagai gambaran, produk artisan bean to bar memiliki nilai tambah berkisar 700 persen hingga 1.500 persen, sedangkan produk cokelat lainnya berkisar 100 persen hingga 300 persen.

Baca juga : Mentan Ajak Pelaku Perkebunan Kalsel Dukung Hilirisasi Kelapa Sawit

Indonesia memiliki peluang untuk pengembangan cokelat artisan, karena didukung sekitar 600 profil aroma yang dapat digunakan sebagai modal dasar inovasi dan variasi produk cokelat artisan. Karena nilai tambahnya yang tinggi, produsen cokelat artisan ini mampu membeli biji kakao dengan harga yang lebih bersaing, sekitar Rp 50.000 per kg hingga Rp 70.000 per kg, di mana harga biji kakao pada umumnya sekitar Rp 30.000 per kg. 

Produsen cokelat artisan membutuhkan biji kakao yang telah difermentasi dengan kualitas premium, sedangkan produsen kakao olahan lainnya masih dapat mengolah biji kakao asalan. "Oleh karena itu, pemerintah melalui Kemenperin akan terus mendorong hilirisasi pengolahan cokelat artisan,” tegas Putu. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense