Sebelumnya
Karena itu, dia menyarankan, untuk menyelamatkan perdagangan offline yang sebagian besar adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Pemerintah harus memisahkan platform media sosial dan e-commerce. Dengan begitu, algoritma data tidak dikuasai oleh satu perusahaan saja, seperti yang dilakukan TikTok.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, anjloknya penjualan pedagang offline tidak hanya disebabkan persaingan dengan jualan di TikTok saja.
Baca juga : Relawan Sintawati Gelar Tebus Murah Sembako Buat Masyarakat Pasar Minggu
Ada pula indikasi pelemahan daya beli kelompok menengah bawah. Penyebabnya, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras.
“Sekarang masyarakat mulai menghemat belanja. Mereka cenderung beli kebutuhan pokok saja,” kata Bhima di Jakarta, Kamis (28/9).
Baca juga : Masyarakat Diminta Tidak Menduga-duga
Solusi jangka panjang untuk permasalahan ini, kata Bhima, harus ada tata niaga yang adil antara platform e-commerce dan social commerce dengan pedagang offline.
“Pemerintah jadi regulator. Kalau ada promo yang mengarah pada predatory pricing harus dicegah. Produsen besar juga jangan langsung jual ke konsumen akhir. Karena dari segi harga sudah pasti lebih murah dibanding harga pedagang atau pengecer,” jelasnya.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu 1/10/2023 dengan judul Belanja Sistem Online Murah & Mudahkan Masyarakat, Digitalisasi Picu Pembeli Tinggalkan Toko Offline
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.