RM.id Rakyat Merdeka - Sikap tegas Pemerintah ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam kunjungannya ke China bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Kepala National Development and Reform Commission (NDRC) China Zheng Shanjie, pejabat dari Tsinghua University dan para pengusaha.
“Sudah saya bilang kepada mereka, harus comply (patuh) terhadap aturan lingkungan. Itu tidak boleh kompromi,” kata Luhut, seperti dikutip Antara, di Shanghai, Minggu (16/6/2024).
Menurut Luhut, jika investor melanggar lingkungan, maka akan ditutup.
Baca juga : BSI Bagikan 9.390 Hewan Potong Kepada Dhuafa
“Mereka jawab, jangan terlalu galak begitu. Saya katakan lagi, tidak bisa. Kita tentu kasih peringatan ya, saya beri tahu itu,” kata Luhut.
Luhut mengatakan, dari pertemuan dengan NDRC, Pemerintah menargetkan kawasan industri di Kaltara dapat selesai dalam empat tahun.
“Kami berharap satu bulan ke depan sudah bisa di-groundbreaking, sudah dimulai konstruksinya. Dan saya kira dalam waktu empat tahun sudah selesai. Salah satunya di sana akan menjadi pabrik petrochemical terbesar di Asia,” harapnya.
Baca juga : Food Station Tak Boleh Jual Beras Mahal-mahal
Dalam pertemuan dengan Kepala NDRC Zheng Shanjie, Luhut meminta agar NDRC mendukung implementasi kawasan industri Kaltara.
Kawasan industri di Kaltara juga sempat dibicarakan dalam pertemuan bilateral Presiden Jokowi dan Presiden China Xi Jinping pada 27 Juli 2023.
Salah satu pembahasan keduanya, yakni joint call perusahaan di bidang petrokimia dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kaltara.
Baca juga : Portugal Vs Republik Ceko, Panggung Terakhir CR-7
Kawasan Industri Hijau seluas sekitar 30 hektare tersebut diperkirakan memiliki nilai investasi hingga 132 miliar dolar AS. Proyek itu hanya berjarak 185 kilometer dari Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Salah satu proyek yang akan dibangun di kawasan tersebut, yaitu pabrik petrokimia, yang akan menjadi pabrik petrokimia terbesar di Indonesia dengan kapasitas mencapai 4x16 juta ton per tahunnya.
Selain itu, ada juga rencana pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) alumina dengan kapasitas tiga juta ton. Masih ada rencana pendirian pabrik besi dan baja (iron and steel) dengan kapasitas lima juta ton per tahun.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.