BREAKING NEWS
 

Ekonomi Global Masih Loyo, OJK Pede Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ADITYA NUGROHO
Senin, 5 Agustus 2024 19:48 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masih adanya ketidakpastian global akibat meningkatnya tensi perang dagang dan geopolitik serta normalisasi harga komoditas global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap meyakini, sektor jasa keuangan terjaga stabil yang didukung oleh tingkat permodalan yang kuat dan likuiditas memadai.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar mengatakan, kinerja perekonomian global secara umum melemah dengan inflasi termoderasi secara broad-based. 

“Sejalan dengan pelemahan pasar tenaga kerja dan penurunan inflasi AS, pasar berekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga kebijakan (FFR) sebanyak dua sampai tiga kali di tahun 2024,” ungkapnya dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 31 Juli 2024 secara virtual, Senin (5/8/2024).

Baca juga : Conor Gallagher Sepakat Pisah Dengan Chelsea

OJK sambung Mahendra melihat, tensi geopolitik global terpantau meningkat sejalan dengan tingginya dinamika politik di AS menjelang Pemilihan Presiden di November 2024, serta perkembangan terkini di Timur-Tengah dan Ukraina. 

“Selain itu, tensi perang dagang juga meningkat khususnya terkait dengan sektor teknologi dan semi konduktor. Secara umum, pasar melakukan price in dampak kenaikan tensi geopolitik,” ujarnya.

Adsense

Sementara itu, secara umum tekanan di pasar keuangan global menurun. Ekspektasi The Fed segera menurunkan FFR telah mendorong penurunan yield USD dan pelemahan dollar index. 

Baca juga : Zulhas Gandeng Jaksa Agung Dan Kapolri

“Hal ini mendorong mulai terjadinya aliran masuk modal (inflow)  ke negara emerging markets, termasuk Indonesia, sehingga pasar keuangan emerging market mayoritas menguat terutama di pasar obligasi dan nilai tukar,” katanya.

Di Eropa, meskipun indikator perekonomian terus melemah, Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga kebijakan pada pertemuan Juli 2024. Namun, pasar mengekspektasikan ECB akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali lagi hingga akhir tahun 2024. 

Di China, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2024 melambat didorong lemahnya permintaan domestik, yang diindikasikan oleh penurunan inflasi dan harga propert. “Hal ini mendorong Pemerintah dan bank sentral terus mengeluarkan stimulus fiskal dan moneter,” jelasn Mahendra.

Baca juga : Bank Jago Tenangkan Nasabah

Dari dalam negeri, kinerja perekonomian masih cukup positif dan cenderung stabil. Hal ini ditunjukkan oleh terjaganya tingkat inflasi dan berlanjutnya surplus neraca perdagangan. 

“Tetapi perlu dicermati berlanjutnya tren penurunan harga komoditas yang telah memoderasi kinerja ekspor,” ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense