Sebelumnya
Rachmat menyebut, untuk dapat keluar dari efek polusi kendaraan bermotor sebenarnya bisa beralih ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang merupakan solusi utama.
Namun, untuk beralih ke kendaraan listrik membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Dia mencontohkan, meskipun Indonesia sudah melakukan adopsi kendaraan listrik dengan masif, namun belum mampu untuk mengimbangi populasi kendaraan berbasis BBM.
Baca juga : PUPR Target Jembatan Pandansimo Di Bantul Rampung Akhir 2024
Selain itu, ia melihat bahwa kebutuhan BBM akan terus naik sampai dengan tahun 2040.
"Karena kecil kan penjualannya, market share-nya EV ini, masih merangkak naikkan. Tahun lalu masih 1,7 persen dan tahun ini mungkin saya lagi data sama teman-teman bisa 5 persen," ujarnya.
Rachmat mengatakan, salah satu cara untuk mengatasi permasalahan polusi udara di Indonesia ialah dengan menurunkan kadar sulfur di dalam BBM yang dijual di Indonesia.
Baca juga : Penonaktifan NIK Kurangi Beban Subsidi Bansos
Pasalnya, sampai dengan saat ini rata-rata kadar sulfur pada BBM, mayoritas berada di level yang cukup tingi.
Kata dia, ada tiga skenario peningkatan kualitas BBM menjadi rendah sulfur.
Menurutnya, pemerintah memerlukan anggaran besar untuk mengimplementasikan BBM rendah sulfur
Baca juga : Rumah Subsidi Mangkrak
Adapun tiga opsi yang ada adalah pembiayaan dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), menaikkan harga BBM, dan menerapkan subsidi tepat sasaran.
"Kalau kita lihat so far sebenarnya yang paling efisien adalah dengan membuat BBM tepat sasaran subsidinya," kata Rachmat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.