RM.id Rakyat Merdeka - Penggunaan kendaraan listrik (EV) terus mengalami peningkatan yang signifikan.
Hal ini selaras dengan peningkatan produksi baterai EV yang diproyeksikan mencapai 8,8 ribu GWh pada tahun 2040 atau meningkat sebesar 19 persen dari 2040-2030 dan 7 persen dari 2030-2040.
Karena itu, ada berbagai hal yang harus diperhatikan. Di antaranya, pengamanan pasokan bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai.
Sehubungan dengan ketersediaan bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai, negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki posisi yang kuat karena potensi bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai seperti nikel, bauksit dan timah.
Direktur Hubungan Kelembagaan Indonesia Battery Corporation, Reynaldi Istanto menyatakan, potensi ini adalah potensi regional yang dapat dikembangkan bersama melalui kolaborasi yang secara signifikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi.
Baca juga : Kadin Indonesia dan KSPSI Kolaborasi Dalam Pembangunan Pusdiklat
"Serta, berkontribusi pada transisi global menuju solusi energi yang berkelanjutan," ujarnya, dikutip Minggu (25/8/2024).
Dia menjelaskan, ada beberapa fokus keberlanjutan yang perlu diperhatikan untuk mendukung implementasi kerja sama regional tersebut.
Pertama, bidang industri yang berfokus pada pengembangan berdasarkan potensi terkuat ASEAN, yaitu bahan baterai berbasis nikel.
Kedua, bidang rantai pasokan yang berfokus pada pengembangan hilirisasi bahan baku dan produksi bersama bahan baterai lainnya.
Ketiga, bidang bisnis yang berfokus pada pengembangan industri baterai terintegrasi,.mulai dari penambangan, peleburan/pemurnian, PCAM, baterai, hingga fasilitas manufaktur EV.
Baca juga : Perdana Dalam 40 Tahun, Pupuk Indonesia Bangun Kawasan Industri Di Papua Barat
Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan proses produksi industri baterai yang terintegrasi, dari hulu ke hilir, untuk nikel dan pengolahan material baterai penting lainnya.
Oleh karena itu, Indonesia Battery Corporation (IBC) didirikan pada tahun 2021 untuk menjadi pemain kunci pada pengolahan hilir bahan baku baterai.
Dimulai dengan nikel yang akan merambah ke pengolahan material lainnya, seperti mangan dan kobalt.
Posisi IBC pada tahun 2030 diproyeksikan menjadi perusahaan yang bergerak pada ekosistem EV dan baterai global.
Pengembangan proyek-proyek IBC juga mencakup inisiatif untuk menciptakan dan mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) dan sistem penyimpanan energi (ESS), memastikan bahwa pasar Indonesia dapat menyerap kegiatan hilirisasi yang dihasilkan dari sumber daya bahan baku.
Baca juga : Danone Indonesia Siap Kolaborasi, Wujudkan Indonesia Emas 2024
Untuk membangun ekosistem rantai terintegrasi ini, IBC telah membentuk berbagai kolaborasi dengan mitra global dan tetap terbuka untuk kemitraan lebih lanjut dengan pemain ASEAN.
Kolaborasi ini sangat penting untuk memperkuat ekosistem EV regional. Dengan keunggulan Indonesia dalam baterai berbasis NMC, fasilitas produksi IBC berada pada posisi yang baik untuk melayani permintaan pasar ASEAN.
“Inilah komitmen yang kami bawa untuk memajukan energi terbarukan di Asia Tenggara,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.