BREAKING NEWS
 

Untuk Jaga Stabilitas Harga

Bulog Didorong Kerek Bisnis Beras Komersial

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Sabtu, 21 September 2024 07:05 WIB
Pekerja melakukan pengepakan beras di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Karawang Perum bulog, Jawa Barat, Senin, (20/5/2024). Foto: DWI PAMBUDO / RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Perum Bulog didorong meningkatkan porsi perdagangan beras komersial secara bertahap. Langkah ini diyakini dapat memperkuat peran BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pangan itu dalam menjaga stabilisasi harga beras nasional.

Pengamat Ekonomi Pertani­an Bustanul Arifin mengatakan, selama ini pihak swasta lebih fleksibel dalam melakukan pe­nyerapan gabah petani.

Berbeda dengan Perum Bulog, kata dia, yang dalam proses pe­nyerapan gabah atau beras dalam negeri, harus memenuhi aturan terkait HPP (Harga Pembelian Pemerintah).

Karena tujuan penetapan HPP dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras, adalah untuk men­jaga stabilitas harga gabah dan beras, baik di tingkat petani, penggilingan, pedagang dan masyarakat.

Baca juga : Hubungan China-RI Makin Kuat Dan Saling Percaya

Bustanul menyarankan, se­baiknya secara bertahap, Bulog bisa memperbanyak porsi beras komersial. Dia memprediksi, saat ini produk komersial Bulog baru 10 persen ada di pasaran.

“Kalau itu bisa bertahap (naik), mungkin idealnya, 15 persen atau bahkan 20 persen, maka stabilisasi (harga beras)-nya terjaga,” yakin Bustanul saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, saat ini secara per­lahan Bulog mulai mengarah ke komersial. Hal ini terlihat dengan diadakannya Indonesia Interna­tional Rice Conference (IIRC) pada 19-21 September 2024, di Nusa Dua, Bali, yang dihadiri pelaku industri perberasan dari berbagai negara.

Dia mendukung kehadiran Bulog di acara tersebut. Karena dapat membina kepercayaan dari negara-negara yang perwakilan­nya hadir di event ini.

Baca juga : DKI Ngarep Bisa Tekan Amukan Si Jago Merah

“Ini menunjukkan Bulog pelan-pelan ke arah komersial. Untuk berdagang, hal itu bagus,” katanya.

Yang jadi perhatian, lanjut dia, seberapa besar Bulog mampu memenuhi kebutuhan beras yang bisa diperdagangkan nantinya.

“Bu Sonya (Direktur Bulog) juga kan sampaikan, beliau ti­dak ingin, harga beli average di Indonesia tinggi. Kita tahu, harga beras tinggi itu karena macam-macam faktornya. Ada dari sisi produksi, gangguan iklim dan lainnya,” terangnya.

Karena itu, imbuhnya, bila produktivitas lahan pertanian di dalam negeri baik, trade flow juga tidak terganggu, maka event internasional bisa menunjukkan nilai positif di mata negara lain.

Baca juga : Crystal Palace Vs Manchester United, Amunisi ‘Setan Merah’ Nyala Lagi

Apalagi, Pemerintah juga berencana mendorong Bulog melakukan investasi di negara lain.

Adsense

“Maka, self confidence itu juga penting karena akan mendukung Bulog untuk menuju ke komersial,” ucapnya.

Terpisah, Direktur Transforma­si dan Hubungan Kelembagaan Bulog Sonya Mamoriska Ha­rahap mengaku, pihaknya akan terus memperbaiki bisnis beras komersial yang dimilikinya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense