RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) terus memonitor perkembangan pasar keuangan global dan domestik pasca pengumuman kebijakan tarif resiprokal (timbal balik) Trump terhadap negara-negara dunia, pada 2 April 2025.
Trump yang menyebut langkah ini sebagai strategi besar membebaskan AS dari ketergantungan impor, menjatuhkan tarif 32 persen atau 2 poin lebih rendah dibanding rival dagang utama AS: China, yang ketiban tarif 34 persen.
Baca juga : Sikapi Tarif Trump, ASPAKI Minta Pemerintah Pertahankan Kebijakan TKDN
China yang tak terima dikenai tarif 34 persen, langsung melakukan retaliasi tarif atau memberlakukan tarif balasan dengan angka yang sama: 34 persen terhadap seluruh produk AS.
Setelah pengumuman Trump dan retaliasi tarif oleh China pada 4 April 2025, pasar dilaporkan bergerak dinamis. Pasar saham global mengalami pelemahan. Imbal hasil (yield) US Treasury atau obligasi pemerintah AS bahkan mengalami penurunan hingga jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024.
Baca juga : Kesempatan Di Balik Tarif Trump, Ekonom: Keseimbangan Baru Agar Rupiah Kuat
Terkait hal tersebut, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso memastikan, bank sentral tetap berkomitmen menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Terutama, melalui optimalisasi instrumen triple intervention (intervensi di pasar valas pada transaksi spot dan DNDF, serta SBN di pasar sekunder).
"Hal ini kami lakukan dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha, serta menjaga keyakinan pelaku pasar," jelas Ramdan dalam keterangan resmi, Sabtu (5/4/2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.