BREAKING NEWS
 

Hapus Sistem Kuota Impor & Pro Swasembada

Visi Prabowo Lindungi Petani Dan Konsumen

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Jumat, 11 April 2025 07:05 WIB
Petani memanen padi jenis Ciherang di Leuwibatu, Bogor, Jawa barat. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Langkah Presiden Prabowo Subianto akan menghapus sistem kuota impor pangan dan memperkuat program swasembada merupakan upaya melindungi petani dan konsumen. Selain itu, untuk menghilangkan praktik oligopoli.

Pengamat pertanian dari Aso­siasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, instruksi presiden agar pengha­pusan sistem kuota impor, jangan sampai disalahpahami agar tidak bertentangan dengan semangat kemandirian, semangat swasembada yang diusung Asta Cita.

“Soal penghapusan kuota im­por ini, dalam konteks pangan, tujuannya bagaimana melindungi petani, peternak, pekebun dan nelayan dari produk impor yang mematikan, tanpa meng­gunakan kuota. Makna ini amat faktual,” tegas Khudori kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sebab, papar Khudori, selain ada gelombang proteksionisme sejumlah negara ketika saat terjadi krisis, perang atau gejolak politik, harga pangan di pasar dunia tidak selalu mencerminkan daya saing.

“Harga pangan di pasar dunia bersifat distortif, baik karena subsidi, dukungan domestik maupun subsidi ekspor. Ini yang membuat harga pangan di pasar dunia murah,” jelasnya.

Baca juga : Bahlil: Jangan Lambat, Kita Harus Responsif

Menurutnya, argumen yang kerap digaungkan bahwa harga pangan domestik mahal. Lalu kemudian menjadi dalih untuk memuluskan impor, harus di­baca secara hati-hati.

Di balik dalih itu, lanjut Khu­dori, ada kehidupan jutaan petani, peternak, pekebun dan nelayan yang dipertaruhkan.

“Hemat saya, perintah Presiden harus dimaknai para pembantunya di kabinet ihwal perlunya mencari instrumen se­lain kuota untuk melindungi produsen domestik, termasuk memastikan kecukupan pangan nasional,” katanya.

Dia menilai, selama ini kuota pangan kerap tidak transparan. Bahkan seringkali menjadi ajang menganaktirikan kelompok tertentu.

Yang faktual, sambung dia, be­lum lama ini sejumlah demonstran menyatroni Kementerian Perda­gangan (Kemendag) dan Kejaksaan Agung (Kejagung) yang memper­soalkan kuota impor bawang putih, yang ditengarai hanya diberikan ke kelompok tertentu saja.

Baca juga : Atasi Kemacetan, DKI Dan Banten Sepakat Rute MRT Diperluas Ke Balaraja

Sementara importir dan pelaku usaha yang sudah puluhan tahun berbisnis bawang putih, justru 2-3 tahun ini tidak mendapatkan jatah.

“Dan jangan lupa, rezim kuota menyuburkan praktik korupsi. Korupsi berulang di sektor pangan yang telah dihukum mayoritas terjadi karena rezim kuota,” warning-nya.

Menurut Khudori, penetapan penerima kuota impor yang tidak transparan membuka celah ter­jadinya korupsi, transaksi gelap dan hengki pengki. Sehingga membuat struktur pasar komodi­tas pangan menjadi oligopoli, ter­pusat hanya pada secuil pemain.

Dalam banyak kasus, pe­megang kuota impor juga mengendalikan pasokan pangan produksi lokal.

“Ujung-ujungnya, rezim kuo­ta impor berbuah kelangkaan dan persistensi kenaikan harga komoditas pangan di dalam negeri. Produsen dan konsumen sama-sama dirugikan,” sesalnya.

Baca juga : Gunduli Dortmund 4-0, Blaugrana Injak Satu Kaki Di Semifinal

Tak hanya itu, suburnya perbu­ruan rente dalam impor pangan tidak terlepas dari begitu besarnya disparitas harga antara harga di domestik dengan harga interna­sional. Disparitas ini tidak hanya memberikan keuntungan luar biasa bagi penerima kuota. Tapi juga memberi insentif bagi calon penerima kuota untuk menyuap dalam jumlah yang amat besar.

“Yang paling dirugikan dari praktik ini adalah konsumen. Mereka terpaksa harus membeli komoditas pangan jauh lebih ma­hal dari seharusnya,” ucapnya.

Ia menambahkan, alternatif yang tersedia dalam mengatasi permasalahan tersebut, salah sa­tunya adalah tarif impor.

Adsense

Lebih lanjut ia menjelaskan, dengan tarif impor, Pemerintah tetap bisa melindungi produsen pangan domestik dari serbuan pangan impor yang distortif.

Sehingga tinggal dihitung berapa tingkat tarifnya dan dibuat fleksibel, mengikuti pergerakan harga komoditas pangan di pasar dunia dan nilai tukar rupiah.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense