Sebelumnya
“Dengan tarif semua pelaku usaha punya kesempatan yang sama,” ungkapnya.
Bahkan lebih dari itu, tarif juga lebih transparan dan memungkinkan negara untuk mendapatkan pemasukan baru dari tarif.
Dengan begitu, tarif ini bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Misalnya, memberikan insentif kepada produsen pangan domestik yang produk impornya dikenai tarif.
“Yang tak kalah penting, rezim tarif juga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan yang diatur di WTO (World Trade Organization), di mana Indonesia menjadi salah satu negara anggotanya,” tegasnya.
Optimal Serap Hasil Panen
Baca juga : Bahlil: Jangan Lambat, Kita Harus Responsif
Terpisah, Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menegaskan, Pemerintah kian mempertegas penguatan ketahanan pangan nasional dan pencapaian swasembada beras, dengan memastikan penyerapan gabah dan beras petani secara optimal.
Hal ini terlihat dari arahan yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 Tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
“Inpres ini akan menjadi pedoman bersama Pemerintah dengan Perum Bulog, bagaimana dapat menyerap hasil panen petani secara maksimal,” ujar Arief dalam keterangan resminya, Kamis (10/4/2025).
Artinya, sambung Arief, Inpres ini menjadi instrumen pelindung untuk mendorong penyerapan dapat tercapai sesuai target penugasan yang telah ditetapkan. Dan semakin memperkuat langkah pemerintah dalam mengelola stok CBP.
“Pemerintah telah berkomitmen tidak ada impor beras lagi. Jadi, produksi dalam negeri harus mampu memenuhi kebutuhan kita,” tegasnya.
Baca juga : Atasi Kemacetan, DKI Dan Banten Sepakat Rute MRT Diperluas Ke Balaraja
Arief menyampaikan, dalam beleid ini ditegaskan target pengadaan beras dalam negeri pada 2025 sebanyak 3 juta ton. Sementara Pemerintah melalui Bulog, menyerap hasil panen petani dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram (kg) untuk GKP (Gabah Kering Panen) dengan segala kualitas di tingkat petani.
Di samping itu, langkah akselerasi pendapatan petani pangan juga menjadi concern Pemerintah.
Berdasarkan data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (8/4/2025), tingkat inflasi beras pada Maret 2025 menunjukkan tren cukup positif, yakni di angka 0,55 persen.
Sementara inflasi beras pada Februari 2025, ada di 0,26 persen. Sedangkan proyeksi produksi beras secara bulanan, menempatkan puncak panen raya terjadi pada Maret 2025, dengan raihan 5,57 juta ton.
Bulan selanjutnya BPS mengestimasikan hasil panen akan mulai menurun, yaitu 4,95 juta ton pada April dan 2,92 juta ton pada Mei.
Baca juga : Gunduli Dortmund 4-0, Blaugrana Injak Satu Kaki Di Semifinal
“Makanya, penyerapan Bulog selama April ini diharapkan semakin intensif dan progresif,” sambungnya.
Arief memastikan, NFA bersama Bulog terus mengupayakan penguatan stok CBP sejak 2022, dengan total stok beras tercatat berada di angka 326 ribu ton.
Selanjutnya, pada penghujung 2023 meningkat 148,5 persen menjadi 810 ribu ton. Dan berlanjut pada akhir 2024, total stok beras Bulog menjadi yang tertinggi selama kurun 4 tahun terakhir, yakni 2 juta ton.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.