Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Soal Tarif Impor, AS Dan China Saling Gigit
Dampaknya Ke Kita, Apa?
RM.id Rakyat Merdeka - Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China makin sengit. Kedua negara adidaya itu saling gigit tanpa ada yang mau mengalah. Ketegangan yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran perang dagang secara global. Lantas, apa dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?
Seperti sudah diduga, China tak mau tunduk pada kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Negeri Tirai Bambu itu justru membalas setiap langkah Trump. Begitu tarif 34 persen diumumkan, Beijing langsung membalas dengan nilai yang sama.
Trump yang naik pitam mengultimatum China agar mencabut tarif tersebut. Namun, hingga tenggat yang diberikan Selasa (8/4/2025), China tak mencabut tarif balasan itu.
Gedung Putih akhirnya menaikkan bea masuk impor tambahan untuk produk China hingga 50 persen. Artinya total bea masuk atas produk China ke AS mencapai 104 persen. Angka ini gabungan dari tarif 20 persen yang sudah berlaku sejak Maret, ditambah 34 persen pekan lalu, dan tarif terbaru 50 persen.
Baca juga : Pasca Lebaran, Menko Polkam Langsung Konsolidasikan Jajaran Hadapi Tantangan Eksternal
Namun, China tak gentar. Hanya berselang sehari, Xi Jinping balik menetapkan tarif balasan tambahan sebesar 50 persen untuk produk impor dari AS. Total tarifnya menjadi 84 persen dan mulai berlaku hari ini, Kamis (10/4/2025).
Dari awal, China memang sudah bersumpah tak akan mundur menghadapi tarif Trump. Kementerian Perdagangan China mengingatkan, tekanan dan ancaman bukan cara tepat untuk menghadapi China.
“China akan berjuang sampai akhir jika AS bersikeras terus berada di jalur yang salah,” ujar Kementerian Perdagangan China, dikutip Xinhua Net, Rabu (9/4/2025).
Kementerian Keuangan China menambahkan, langkah AS menaikkan tarif kepada China sebagai kesalahan yang fatal, yang secara serius melanggar hak dan kepentingan sah China. “Tindakan tersebut menambah penghinaan atas luka yang sudah ada,” demikian pernyataan Kemenkeu China, dikutip dari Politico, Rabu (9/4/2025).
Baca juga : Partai Rakyat Saranin Nasionalisasi Aset Aja
Ketegangan yang terus memanas antara AS dan China memicu kekhawatiran akan pecahnya perang dagang berskala global. Ketidakpastian soal tarif membuat pasar saham dunia bergejolak.
Jika kedua negara ngotot dan tak mau mencari solusi menang-menang, ekonomi global bisa terguncang. Negara berkembang seperti Indonesia pun berpotensi ikut terdampak.
Bukan hanya China yang menjadi korban hantaman tarif tinggi AS. Indonesia juga mendapat tarif resiprokal sebesar 32 persen oleh Trump.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, situasi ini harus dihadapi secara pragmatis dan cepat. Agar Indonesia bisa segera mengambil langkah terbaik demi meminimalisir dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Baca juga : Akhirnya, Ome Lolos Dari Hukuman Diskualifikasi...
Sri Mul-sapaan Sri Mulyani mengatakan, China yang awalnya diperkirakan akan menahan diri, justru membalas dengan retaliasi yang sama keras. “Ini jelas memicu eskalasi, dan berdampak langsung pada gejolak di pasar uang dalam dua hari terakhir,” kata Sri Mul.
Sri Mul menambahkan, Prabowo sudah memerintahkan para menterinya untuk segera merespons perkembangan perang tarif ini. Menurutnya, kebijakan yang diperlukan harus diambil sekarang juga, tanpa menunda.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, tarif tinggi membuka ruang bagi Indonesia untuk menarik perusahaan multinasional agar memindahkan basis produksinya ke Tanah Air. Salah satu perusahaan yang sudah menunjukkan ketertarikan adalah Nike.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.