BREAKING NEWS
 

Diterpa Tarif AS, Dharma Polimetal Tetap Cuan, Bagi Dividen Rp 202 Miliar

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Rabu, 23 April 2025 11:31 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Dharma Polimetal Tbk terus memperluas ekspansi bisnis di sektor teknologi kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Langkah itu berjalan di tengah kebijakan kenaikan tarif impor Amerika Serikat (AS) dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Perusahaan berkode emiten DRMA ini mengembangkan inovasi baterai litium dan sistem penyimpanan energi skala besar (energy storage system/ESS), sekaligus mencatat kinerja keuangan positif dengan membagikan dividen sebesar Rp 202 miliar kepada para pemegang saham.

Presiden Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso mengatakan, inovasi tersebut menjadi bagian dari strategi utama perusahaan untuk menekan biaya produksi. Apalagi, perusahaan terus memperluas pasar ekspor.

"Kami mengembangkan baterai litium, berbeda dari aki yang populer di pasar. Ini bagian dari efisiensi dan ekspansi," ujarnya menjawab pertanyaan RM.id dalam konferensi pers, di Jakarta, dikutip Selasa (22/4/2025).

Baca juga : Disepakati di RUPST, Bank BJB Tebar Dividen Rp 896,95 Miliar

ESS yang dikembangkan DRMA kini ditingkatkan kapasitasnya dari mulanya untuk rumah tangga menjadi skala industri.

Perusahaan memanfaatkan ESS yang dikombinasikan dengan panel surya dan inverter untuk mendukung stasiun pengisian daya (charging station) berkapasitas hingga 5 megawatt.

"Charging station awalnya 50 kilowatt, sekarang bisa kami kembangkan hingga 5 megawatt," jelas Irianto.

Pengembangan teknologi ini sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau.

Adsense

Selain itu, DRMA juga mulai masuk ke segmen auxiliary battery berbasis litium di bawah merek DC Battery, bagian dari ekosistem Dharma Connect.

Baca juga : Ditutup Meriah, Jakarta Lebaran Fair 2025 Catatkan Transaksi Rp 300 Miliar

Produk ini sepenuhnya masih dipasarkan ke luar negeri, namun perusahaan tengah mengkaji ekspansi ke pasar domestik.

“Kami juga sudah memasok 600 unit BESS ke pengembang perumahan. Ini bagian dari diversifikasi untuk menambah pendapatan baru di luar otomotif,” tambahnya.

Meski dihadapkan pada kenaikan tarif bea masuk di Amerika Serikat, DRMA tetap optimistis menjaga kinerja ekspor.

Menurutnya dengan kenaikan tarif oleh Amerika terhadap Indonesia 5 persen plus 32 persen menjadi 37 persen adalah tantangan tersendiri. Ia menilai, biaya produksi masih lebih kompetitif.

“Ekspor kami ke Amerika pada saat ini adalah menggantikan yang disuplai oleh Meksiko. Meksiko sendiri saat ini hanya naik dari 10 menjadi 25 persen,” bebernya.

Baca juga : Antisipasi Tarif Impor AS, Rachmat Gobel Sarankan Pemerintah Lakukan 8 Hal

Saat ini, ekspor ke AS menyumbang sekitar 30 persen dari total unit mobil yang disuplai, mencakup satu varian Hyundai dan tiga varian Kia.

“Kami juga menjajaki pasar baru di luar AS untuk memperluas ekspor. Potensinya masih besar,” ujarnya.

Di tengah ekspansi tersebut, DRMA tetap mencatat kinerja keuangan solid. Tahun buku 2024, perusahaan membukukan penjualan sebesar Rp 5,5 triliun dengan laba bersih Rp 579,3 miliar.

Dari jumlah tersebut, 35 persen atau Rp 202 miliar dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham, sebagaimana diputuskan dalam RUPST di Cikarang.

Segmen kendaraan roda dua menjadi penyumbang utama penjualan dengan kontribusi Rp 3,3 triliun atau 59 persen dari total pendapatan. DRMA menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 10 persen pada 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense