Sebelumnya
Ekonomi Pulih
Dari sisi perbankan, analisa Tim Ekonom Bank Mandiri mengungkapkan, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap akomodatif sepanjang 2025, dengan ruang pelonggaran terbuka selama stabilitas harga dan nilai tukar terjaga.
Sementara akselerasi realisasi belanja Pemerintah akan menjadi bantalan penting menghadapi ketidakpastian global.
Hingga periode kuartal I-2025, fungsi intermediasi perbankan menunjukkan moderasi dengan pertumbuhan kredit 9,16 persen (yoy) pada Maret 2025 secara industri.
Baca juga : RI-Chile Dorong Aksesi Perdagangan Regional
“Tetapi likuiditas menjadi lebih ketat dengan pertumbuhan DPK sebesar 4,75 persen, dan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang naik menjadi 88 persen,” jelas Andry.
Dia menyakinkan, Bank Mandiri tetap mencatat kinerja solid, dengan kredit konsolidasi mencapai Rp 1.672 triliun atau tumbuh 16,5 persen yoy.
“Fokus pembiayaan diarahkan ke sektor konstruksi, energi, makanan dan minuman, serta sektor padat karya yang resilient,” ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia mulai pulih.
Baca juga : Percepat Bangun Pos Damkar Di Kelurahan
“Hal itu terlihat dari jumlah uang inti yang beredar di sistem perekonomian Indonesia tumbuh cepat di kisaran 15 persen,” kata Purbaya dalam Investment Forum 2025 di Jakarta, Jumat (16/5/2025).
Purbaya menyebut, Base Money tumbuh 15 persen, yang sebelumnya negatif dan Januari-Februari itu di level 5 persenan. “Kalau pertumbuhannya sudah segitu, artinya ekonomi berjalan baik,” yakin Purbaya.
Dia juga meyakini, kondisi perbankan di Indonesia masih sangat baik. Hal itu tercermin dari tabungan masyarakat yang naik signifikan, kendati pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) cukup melambat.
Dia mengaku optimistis, ekonomi Indonesia akan tetap membaik. Bahkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) diprediksi akan naik sampai enam kali lipat tahun ini.
Baca juga : Napoli Sukses Ditahan Parma, Inter Buang Peluang Scudetto
Purbaya juga menyebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) sebesar 4,7 persen terlalu pesimistis dan tidak akurat.
“Itu berdasarkan rekam jejak lembaga tersebut dalam memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia pada masa lalu,” tegasnya.
Dia mencontohkan, pada 2009 IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,5 persen, padahal realisasinya mencapai 4,6 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.