Dark/Light Mode

Jemaah Tertua Tiba di Tanah Suci, Turun dari Pesawat Langsung Tanya Kue Singkong

Senin, 19 Mei 2025 08:34 WIB
Mbah Sumbuk (109 tahun) menjawab pertanyaan MCH, saat tiba di Bandara Jeddah, Arab Saudi, Minggu (18/5/2025). (Foto: Nana Maulana/RM)
Mbah Sumbuk (109 tahun) menjawab pertanyaan MCH, saat tiba di Bandara Jeddah, Arab Saudi, Minggu (18/5/2025). (Foto: Nana Maulana/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mbah Sumbuk (109 tahun), tiba di Tanah Suci dengan sehat dan bugar. Ada yang lucu saat jemaah haji tertua ini, diwawancarai Media Center Haji (MCH). Dia tiba-tiba bertanya mengenai kue singkong favoritnya.

Mbah Sumbuk tergabung dalam Kloter 33 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS-33). Dia berdomisili di Bekasi. Namun, asalnya dari Kebumen, Jawa Tengah. Saat berkomunikasi, dia banyak menggunakan Bahasa Jawa Ngapak. Mbah Sumbuk berangkat haji bersama putri bungsunya Sukmi (56 tahun), menantunya M Marhamin (60 tahun), dan cucunya Muhammad Nurhasan Abdullah (35 tahun). 

Pesawat yang ditumpangi Mbah kelahiran tahun 1916 itu, mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, pukul 07.20 waktu Arab Saudi atau pukul 11.20 waktu Jakarta. Kedatangan Mbah Sumbuk disambut antusias oleh para petugas haji.

Mbah Sumbuk keluar dari Terminal Fast Track dengan menggunakan kursi roda. Dia didorong petugas otoritas bandara sampai melewati X-ray. Setelah itu, dilanjutkan salah satu petugas haji Daerah Kerja (Daker) Bandara. Mbah Sumbuk lalu dibawa ke Paviliun A2, ruang tunggu untuk jemaah sebelum naik ke bus.

Sebelum sampai ke paviliun, Mbah Sumbuk mengaku haus. Sukmi, yang berjalan di dekatnya sigap memberikan air minum kemasan.

Setelah minum, Mbah Sumbuk memandang sekeliling dengan tatapan penuh rasa syukur. "Alhamdulillah, nembe kiye numpak pesawat, wis tua (Alhamdulillah, baru kali ini naik pesawat, sudah tua),” ucapnya.

Saat diwawancarai Tim MCH, Mbah Sumbuk tak risih. Dia duduk tenang di atas kursi roda. Saat menjawab pertanyaan, suaranya lembut tapi masih jelas terdengar. Tangannya bergerak aktif. Sesekali dia memegang tangan orang yang ada di sekitarnya.

Baca juga : Resmi Dilantik Sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV Berharap Tidak Ada Lagi Perang

Saat ditanya perasaan tiba di Tanah Suci, mata berkaca-kaca. Dari bibirnya yang bergetar terucap kalimat syukur yang begitu mendalam, “Alhamdulillah. Mbah tekan kéné (Alhamdulillah. Mbah sudah sampai sini)," ujarnya.

Setelah itu, Mbah Sumbuk menoleh ke kanan dan kiri. Tiba-tiba dia bertanya dengan suara lirih.

Ngendi lemeté, Le? Kowe ngerti ora, ana lemet ora neng kéné (Di mana lemetnya, Nak? Kamu tahu tidak, ada lemet tidak di sini)?” ucapnya, kepada Warijan, petugas haji yang menerjemahkan ucapannya. Kebetulan, Warijan juga berasal dari Kebumen.

Lemet adalah makanan tradisional sederhana yang terbuat dari singkong parut dan gula jawa. Bagi Mbah Sumbuk, lemet bukan sekadar makanan, namun juga representasi kerinduan akan kampung halaman tercinta.

Mendengar ini, para petugas pun tersenyum, terhibur oleh kesederhanaan permintaan jemaah istimewa ini. Sayangnya, lemetnya tidak ada. Karena sepertinya memang Mbah Sumbuk tidak membawanya.

Namun, Mbah Sumbuk tak terlihat sedih. Apalagi saat tahu bahwa Warijan berasal dari Kebumen, wajahnya langsung ceria.

Kowe wong Kebumen, Le (Kamu orang Kebumen, Nak)?” tanya Mbah Sumbuk dengan antusias. “Inggih, Mbah. Nyong asli Kebumen (Iya, Mbah. Saya asli Kebumen),” jawab Warijan sambil tersenyum hangat.

Baca juga : Beras Mau Ekspor, Singkong Dan Garam Masih Impor

Tanpa ragu, Mbah Sumbuk menggenggam erat tangan Warijan, seolah menemukan kembali seorang saudara di tanah yang jauh. “Yo wis, melok nyong wae yo nang Makkah. Bareng-bareng wae, Le (Ya sudah, ikut saya saja ya ke Makkah. Bersama-sama saja, Nak),” pintanya, dengan polos.

Warijan membalas dengan lembut dan penuh hormat. Warijan menerangkan, dirinya hanya bertugas di Bandara. “Mengko nang Makkah akeh kancane aku sing nemenin, Mbah. Ana wong Kebumen (Nanti di Makkah banyak teman saya yang menemani, Mbah. Ada orang Kebumen),” ucapnya.

Karena cuaca yang panas, Mbah Sumbuk tampak kehausan lagi. Dengan lirih dia meminta air kembali. “Aku pan ngombe, Le (Saya mau minum, Nak),” ucapnya.

Setelah sekitar lima menit, Mbah Sumbuk didorong menuju bus, yang dilengkapi lift hidrolik. Mbah Sumbuk dilayani dengan bus khusus untuk pengguna kursi roda. Sebelum ke bus, banyak petugas haji mencium tangan Mbah Sumbuk. Beberapa petugas bahkan terlihat menangis haru.

Mengenai lemet, Mbah Sumbuk sepertinya lapar. Sebab, saat di pesawat, dia menolak makan. “Makan hanya satu suap doang," ungkap Sukmi.

Anak ke-10 Mbah Sumbuk ini menyampaikan, ada salah satu makanan favorit ibunya yang selama ini kerap dikonsumsi. "Bubur nasi," singkatnya.

Tenaga Kesehatan Haji (TKH) yang mendampingi Mbah Sumbuk, dr. Murdiana, menceritakan bahwa Mbah Sumbuk sempat diberikan oksigen dan sempat dilakukan tindakan. Namun, hal itu tidak lama. Sebab, Mbah Sumbuk tampak sehat kembali.

Baca juga : Jaga Kejaksaan, TNI AD Minta Tidak Dicurigai

"Alhamdulillah ibunya bersemangat untuk naik haji. Pas beliau mau minum, mau makan, sudah bagus, bisa diajak bicara lagi," tutur dr. Mardiana.

Dia menjelaskan, kondisi Mbah Sumbuk saat ini sudah membaik dan siap untuk beribadah haji. Nantinya, Mbah Sumbuk akan didampingi dokter pendamping dan pihak Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah.

"KKHI Jeddah sudah kasih instruksi kepada kami untuk berkoordinasi dengan KKHI Makkah. Jadi, beliau tetap dalam pendampingan," ujarnya.

Saat di hotel, Mbah Sumbuk akan ditempatkan bersama TKH. "Bareng sama kami. Kan biar dipantau khusus sama kami, jadi tinggalnya bersama," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.