BREAKING NEWS
 

Audit Ketat demi Pasar Barat, Harita Nickel Tancap Gas!

Reporter & Editor :
FAZRY
Selasa, 1 Juli 2025 14:43 WIB
Suasana di kawasan pabrik pemurnian nikel limonit milik Harita Nickel. (Foto: Fazry/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Demi menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat yang makin rewel soal lingkungan dan sosial, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) mengambil langkah besar.

Perusahaan tambang yang beroperasi di Pulau Obi Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara ini dengan sukarela mengikuti audit super ketat berstandar global: IRMA (The Initiative for Responsible Mining Assurance).

Audit ini jadi “gerbang” masuk ke rantai pasok global, khususnya untuk industri kendaraan listrik yang tengah booming.

Harita siap membuktikan bahwa tambang Indonesia bisa transparan, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan.

"Buyer global sekarang banyak nanya soal rantai pasok. Jadi, kami ingin tunjukkan bahwa kami sudah standar IRMA," kata Deputy Health, Safety, and Environment (HSE) Department Harita Nickel Iwan Syahroni, saat ditemui di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Minggu (15/6).

Audit IRMA dilakukan oleh lembaga independen SCS Global Services sejak 2023.

Setelah dokumen diperiksa (Oktober 2024), tim audit terjun langsung ke lapangan (April 2025).

Laporan publik akan segera dirilis lewat situs IRMA dan kanal lokal. Audit IRMA punya empat fokus utama: integritas bisnis (hukum, hak asasi manusia), tanggung jawab sosial (hak pekerja, budaya lokal), tanggung jawab lingkungan (air, emisi karbon), serta dampak positif bagi masyarakat (kontribusi buat warga sekitar).

Baca juga : DPR Minta Polri Gerak Cepat Tangkap Penebar Teror Bom

Total ada 26 bab dan lebih dari 1.000 butir penilaian yang harus dipenuhi.

Tak cuma IRMA, Harita Nickel juga ikut Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) dari Responsible Minerals Initiative (RMI).

“Langkah ini juga untuk menunjukkan bahwa tambang Indonesia bisa tampil terbuka dan akuntabel,” tegas Iwan.

China saat ini masih jadi pembeli utama produk nikel Harita. Namun, dengan makin tingginya permintaan global—khususnya untuk baterai mobil listrik—pasar makin terbuka. Dan Eropa-Amerika punya syarat: semua harus patuh standar.

“Kami ingin tunjukkan bahwa kami sudah siap masuk pasar global dengan standar IRMA,” tambah Iwan.

Pionir Teknologi Hijau di Timur

Harita Nickel tak main-main soal hilirisasi. Sejak 2016, perusahaan mengoperasikan smelter nikel saprolit dengan teknologi RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace).

Adsense

Lalu pada 2021, mereka jadi pionir dengan pabrik pemurnian nikel limonit memakai teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching)—yang mampu mengolah nikel kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku baterai listrik.

Dengan teknologi HPAL, MHP kini bisa diolah menjadi Nikel Sulfat (NiSO₄)—kunci utama katoda baterai mobil listrik.

Baca juga : Salam Kawasi, Harita Nickel Nggak Cuma Jago Tambang

Harita Nickel pun resmi jadi pemain penting dalam transisi energi.

22 Ribu Pekerja, Separuhnya Orang Maluku

Kontribusi sosial Harita juga tak bisa dianggap remeh. Dari total 22 ribu pekerja, 85 persen adalah warga negara Indonesia dan 45 persen berasal dari Maluku Utara.

Perusahaan secara aktif memberikan ruang untuk tenaga kerja lokal.

Reklamasi Jalan Terus

Harita juga jalan terus soal reklamasi. Tahun ini, targetnya 66 hektare lahan bekas tambang dihijaukan lagi.

Sejak 2024, dua unit usaha Harita sudah mereklamasi 231,53 hektare lahan. Jenis tanamannya beragam—dari cemara laut, kayu putih, hingga pohon gofasa.

Semua dimulai dari Loji Central Nursery, pusat pembibitan lengkap dengan greenhouse, laboratorium lingkungan, dan gudang pupuk.

"Kami siapkan dana sekitar Rp 250 juta per hektare untuk reklamasi. Ini bentuk tanggung jawab kami," ujar Iwan.

Air Tambang Disaring Sebelum Dialirkan

Urusan air pun diperhatikan betul. Harita membangun kolam pengendapan (sediment pond) seluas 100 hektare yang bisa menampung 1,2 juta meter kubik air limpasan.

Baca juga : Bukan Tambang Sembarang, Harita Nickel Pilih Dibedah IRMA

Kolam ini menyaring partikel padat dari air tambang sebelum dialirkan ke laut.

"Air jernih masuk ke tambang, harus jernih juga saat kembali ke alam," kata Iwan.

Biaya pembangunan kolam ini tembus Rp 45 miliar. Tak heran, tim monitoring disiapkan khusus untuk cek kondisi air setiap hari—apalagi saat hujan deras datang.

Harita Nickel membuktikan bahwa tambang tak harus selalu identik dengan rusak dan kelam.

Lewat audit IRMA dan berbagai inisiatif berkelanjutan, perusahaan ini tancap gas menuju standar kelas dunia, sambil tetap berpijak di bumi Obi.

Inilah potret tambang modern dari Timur Indonesia—digali, diolah, dan dijaga, demi masa depan energi yang bersih dan bertanggung jawab.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense