Kita sering mendengar berita membanggakan: "Pertumbuhan ekonomi negara kita naik sekian persen!" Angka-angka statistik terlihat hijau dan menjanjikan. Namun, saat kita melihat ke sekitar, pertanyaan besar sering kali muncul: jika ekonomi terus tumbuh, mengapa masalah kemiskinan, ketimpangan, dan kesulitan hidup seolah tak kunjung usai?
Ternyata, ada cara pandang lain dalam melihat "pembangunan". Jika ekonomi konvensional sering kali fokus pada angka dan "memperbesar kue", ekonomi Islam datang dengan pertanyaan yang lebih mendasar: "Untuk siapa kue ini dibuat, dan bagaimana cara membaginya secara adil?"
Bukan Sekadar Angka, Tapi Kesejahteraan Umat
Menurut sebuah studi tentang pembangunan ekonomi dalam perspektif Islam, masalah utama dari model konvensional adalah fokusnya yang sempit pada pertumbuhan materi. Akibatnya, kekayaan sering kali hanya menumpuk di segelintir kalangan, sementara sebagian besar masyarakat tetap tertinggal.
Baca juga : Buntut OTT Sumut, KPK Tetapkan 5 Tersangka Suap Proyek Jalan
Islam menawarkan konsep pembangunan yang tujuannya jauh lebih luas, yaitu kesejahteraan umat secara menyeluruh. Ini bukan hanya soal perut yang kenyang atau dompet yang tebal, tetapi juga soal ketenangan jiwa, keadilan sosial, dan terpeliharanya martabat manusia. Tujuannya adalah mencapai Falah, yaitu kebahagiaan paripurna di dunia dan akhirat.
Manusia Bukan Sekadar "Faktor Produksi"
Salah satu perbedaan paling mendasar terletak pada cara memandang manusia. Dalam banyak model ekonomi, manusia (tenaga kerja) sering kali dianggap sekadar salah satu "faktor produksi", layaknya mesin atau modal.
Ekonomi Islam membalik cara pandang ini. Pembangunan sejati justru dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Tujuannya adalah mengangkat harkat dan martabat manusia, memberdayakan mereka dengan ilmu, keahlian, dan akhlak mulia. Ketika manusianya berkualitas dan sejahtera, maka pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan akan mengikuti secara alami.
Baca juga : Pertamina Mampu Adaptasi & Punya Daya Tahan Tinggi
Peran Negara sebagai Penjaga Keadilan
Lalu, siapa yang memastikan semua ini berjalan? Di sinilah peran penting negara. Menurut perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan tujuan-tujuan ekonomi tercapai.
Negara tidak boleh hanya menjadi regulator yang pasif. Ia harus aktif menjaga keadilan, mencegah penumpukan harta pada segelintir orang, memberantas praktik ekonomi yang merugikan (seperti riba dan monopoli), serta menjamin kebutuhan dasar setiap warganya. Negara adalah "penjaga" yang memastikan bahwa "kue" ekonomi tidak hanya besar, tetapi juga terdistribusi secara adil ke seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan: Sebuah Solusi yang Lebih Manusiawi
Baca juga : Luhut: Saatnya Kerja Nyata, Bukan Saling Menyalahkan
Pada akhirnya, perspektif Islam mengajak kita untuk merefleksikan kembali tujuan kita ber-ekonomi. Pertumbuhan angka memang penting, tetapi itu bukanlah segalanya. Pembangunan yang sejati adalah yang berpusat pada manusia, digerakkan oleh nilai-nilai keadilan, dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan yang bisa dirasakan oleh semua. Ini adalah sebuah solusi yang tidak hanya logis secara ekonomi, tetapi juga lebih adil dan manusiawi.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.