RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah laut Kalimantan Timur, enam struktur anjungan raksasa menjulang menantang gelombang. Deretan besi baja itu bukan sekadar konstruksi industri, tapi simbol dari upaya besar menyalakan energi untuk negeri.
Di sinilah PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), bagian dari Subholding Upstream Pertamina melalui Regional 3 Kalimantan di bawah PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), menambatkan harapan baru: memperkuat produksi gas bumi dari Wilayah Kerja Mahakam.
Struktur yang menjadi bagian dari Proyek Senipah North Platform atau SNB AOI ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV tahun 2025. Proyek ini menjadi salah satu dari 15 Proyek Strategis Nasional (PSN) sektor hulu migas yang akan menopang target produksi nasional gas bumi.
“Proyek SNB AOI ini akan menambah produksi gas sebesar 30 juta kaki kubik per hari per unit. Ini bagian dari upaya PHM menjaga keberlanjutan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah mature,” kata General Manager PHM, Setyo Sapto Edi.
Teknologi modular diterapkan dalam pembangunan enam anjungan tersebut. Struktur baja raksasa dikonstruksi di Bontang, lalu dikapalkan dan dipasang di laut Mahakam dengan metode suction pile foundation, teknologi ramah lingkungan yang minim dampak terhadap dasar laut. Proyek ini sekaligus memperkuat komitmen Pertamina dalam mendukung pencapaian target pemerintah untuk memproduksi satu juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada 2030.
Baca juga : Dari Meja Makan ke Meja Diplomasi, Prabowo & Macron Rancang Kerja Sama Strategis
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen tersebut saat meninjau proyek SNB AOI bersama Dirjen Migas, Kementerian ESDM dan jajaran manajemen PHI dan PHM.
“Kami harap proyek ini berjalan lancar dan tepat waktu. Pemerintah berkomitmen mendukung penuh percepatan lifting migas nasional agar dapat menopang kebutuhan energi dan perekonomian,” ujar Bahlil dalam kunjungan ke Lapangan Senipah Peciko South Mahakam (SPS), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada akhir April 2025.
Namun nyala energi dari Mahakam tak hanya soal produksi. PHI, sebagai induk dari PHM, menjadikan keberlanjutan sebagai prinsip utama dalam setiap langkah.
Direktur Utama PHI Sunaryanto menegaskan, bahwa perusahaan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi bisnis yang berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa kinerja yang berkelanjutan dibangun melalui operasi yang andal, aman, patuh terhadap peraturan, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial,” ujar Sunaryanto dalam siaran pers.
Baca juga : Myanmar Membara, Filipina Pernah Menyala: Diplomasi Selalu Menang
Dalam aspek sosial, PHI menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari pendidikan, konservasi lingkungan, hingga penguatan usaha mikro. Salah satu flagship programnya adalah Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan (BSBK), hasil kerja sama dengan Pertamina Foundation.
Melalui program ini, anak-anak dari keluarga prasejahtera di sekitar wilayah operasi PHI di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara mendapatkan akses pendidikan tinggi secara penuh. Tahun 2025, cakupan program diperluas menjadi 16 perguruan tinggi mitra.
Di bidang lingkungan, PHI konsisten menjalankan konservasi mangrove, penanaman pohon, serta inovasi pengelolaan air bersih dan limbah. Semua dilakukan dengan pendekatan partisipatif, bekerja sama dengan masyarakat lokal agar hasilnya berkelanjutan.
Komitmen pada keselamatan kerja pun ditunjukkan lewat capaian lebih dari 44 juta jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja yang menyebabkan kehilangan waktu (Loss Time Injury/LTI) oleh PHM. Capaian ini menjadi prestasi membanggakan di tengah tantangan operasi di laut lepas dan daratan Kalimantan yang tidak ringan.
Sepanjang kuartal I-2025, PHI mencatatkan produksi migas sebesar 58,4 ribu barel setara minyak per hari dan 621,2 juta kaki kubik gas per hari. Energi dari Kalimantan ini mengalir ke pembangkit listrik, pabrik pupuk, industri, transportasi, dan rumah tangga di berbagai penjuru Indonesia.
Baca juga : Dari Makkah, Prabowo Instruksikan Penyelamatan Korban Kapal Tenggelam
PHI juga terus memperkuat sinergi antar-BUMN, termasuk melalui kontrak jual beli gas dengan PT PLN (Persero), guna mendukung ketahanan energi nasional dan mendekatkan energi ke masyarakat. “Energi dari Kalimantan bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan Indonesia,” ujar Sunaryanto.
Di laut Mahakam, api menyala di puncak anjungan. Tapi bukan hanya gas yang dihasilkan, melainkan harapan bagi generasi muda, masyarakat lokal, dan bumi Kalimantan. Dari energi yang menyala, harapan pun membara—dari Mahakam, untuk seluruh Nusantara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.