BREAKING NEWS
 

Purbaya Effect Mulai Terlihat Pada Likuiditas Bank Dan Laju Kredit

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 13 November 2025 21:54 WIB
Chief Economist IEI Sunarsip memaparkan dampak awal “Purbaya Effect” terhadap likuiditas perbankan dan percepatan kredit. (Foto: JAR/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - Efek kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai terasa pada likuiditas bank nasional. Dorongan dana pemerintah membuat penyaluran kredit tumbuh lebih cepat dalam dua bulan terakhir.

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip melihat perubahan likuiditas perbankan sebagai indikator awal Purbaya Effect. Ia menilai kebijakan penempatan dana pemerintah turut menggerakkan percepatan kredit sejak pertengahan September.

“Pertumbuhan kredit itu sebagian besar masih ditopang oleh debitur BUMN. Dari 1,69 persen naik menjadi 10,04 persen,” ujarnya dalam acara Katadata Policy Dialogue di Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Kementerian Keuangan mencatat penempatan dana Rp200 triliun di bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mulai terserap untuk pembiayaan kredit. Dana itu resmi digelontorkan pemerintah pada 12 September 2025.

Baca juga : IKN Tak Akan Jadi Kota Hantu

“Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 mungkin tidak bisa di atas 5 persen tanpa tambahan kredit,” kata Sunarsip.

Menurut Sunarsip, perekonomian kuartal III 2025 memang tumbuh 5,04 persen tetapi belum diperkuat oleh konsumsi masyarakat. Ia menilai konsumsi pemerintah masih jadi penopang utama pada periode tersebut. “Pertumbuhan konsumsi pemerintah mencapai 5,49 persen pada kuartal III 2025,” ujar Sunarsip.

Adsense

Sunarsip memandang perlu ada perubahan pendekatan agar ekonomi lebih stabil. Ia menyarankan pemerintah mulai memperkuat sisi supply atau pasokan sektoral di tengah konsumsi rumah tangga yang masih stagnan di bawah 5 persen.

“Kalau saya lebih baik perbaiki sisi supply-nya bukan demand,” kata Sunarsip.

Baca juga : Mundurnya Ditolak MKD, Sara Gerindra Diaktifkan Lagi Jadi Anggota DPR

Menurutnya stagnasi konsumsi rumah tangga berkaitan dengan belum pulihnya sejumlah sektor industri pascapandemi Covid 19. Ia menilai pemulihan sektor riil masih timpang sehingga daya beli rumah tangga belum kembali normal.

Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Lutfi Ridho menyebut pemerintah tetap berupaya memperkuat konsumsi rumah tangga. Ia menekankan pentingnya membangun ulang rasa percaya masyarakat terhadap prospek pendapatan mereka. “Mereka harus yakin terutama keyakinan pendapatan di masa yang akan datang,” kata Lutfi.

Lutfi menjelaskan DEN kini memfokuskan langkah pada penguatan optimisme masyarakat dan menjaga stabilitas pendapatan. Ia menilai kepercayaan publik menjadi fondasi agar konsumsi rumah tangga kembali menjadi pendorong utama pertumbuhan.

“Kalau kepercayaan itu terbentuk konsumsi rumah tangga bisa kembali jadi motor utama ekonomi,” ujar Lutfi.

Baca juga : Permintaan Kredit Masih Loyo, BI Kasih Insentif Likuiditas Ke Bank

Ia menambahkan investasi masih akan menjadi penggerak besar pada tahun depan. Namun konsolidasi konsumsi rumah tangga tetap diperlukan agar dorongan pertumbuhan lebih merata di seluruh sektor.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense