RM.id Rakyat Merdeka - Sawit kembali unjuk gigi di panggung global. Komoditas primadona ini didorong menjadi motor ekonomi hijau.
Industri kelapa sawit kini diposisikan sebagai sektor strategis dalam visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan keberlanjutan, keadilan dan penguatan diplomasi global.
Dari luas lahan 0,1 juta hektare pada 1950, sawit kini berkembang menjadi sekitar 17 juta hektare dan menjadi fondasi transformasi ekonomi hijau nasional.
Baca juga : Anggota DPRD Pilih Walk Out Dari Sidang
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menegaskan, pengelolaan sawit harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengorbankan lingkungan dan ketahanan pangan.
“Dalam visi 2045, sawit diproyeksikan sebagai motor energi terbarukan, penyokong ketahanan pangan global dan pencipta jutaan lapangan kerja hijau. Sawit juga menjadi basis bagi industri hilir seperti biofuel, oleokimia dan green manufacturing,” kata Rachmat dalam Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Kamis (13/11/2025).
Dia menjelaskan, industri sawit menjadi model transformasi berkelanjutan yang mendukung penghapusan kemiskinan, peningkatan pendapatan negara, hingga pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Baca juga : Eks Pejabat MA Zarof Ricar Segera Dieksekusi Kejagung
“Peta jalan sawit masa depan harus menempatkan keberlanjutan, keadilan dan diplomasi sebagai pilar utama,” ujarnya.
Rachmat juga menyoroti kemenangan Indonesia dalam sengketa diskriminasi sawit di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), serta upaya memperkuat sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), reformasi regulasi dan pemberdayaan petani kecil.
“Sawit bukan sekadar komoditas, melainkan jembatan kemanusiaan yang harus dikelola secara adil dan berkelanjutan. Sehingga pada 2045, industri ini menjadi simbol kerja sama global, bukan hanya ramai kontroversinya,” ucapnya.
Baca juga : Portugal Dibungkam Irlandia, Ronaldo Marah-marah
Dari sisi diplomasi, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menyinggung dinamika global yang memengaruhi industri. Termasuk tarif resiprokal AS dan peluang pasar baru.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.