Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Temuan BNPT
Gawat, Jaringan Teroris Rekrut Anak-anak Lewat Game Online
Jumat, 14 November 2025 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ancaman terorisme kini merambah dunia permainan digital. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan jaringan teroris mulai merekrut anak-anak lewat game online.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengungkap temuan itu saat menerima kunjungan Chairman of the International Steering Board of Hedayah, Ali Rashid Alnuaimi, di Jakarta, Rabu (12/11/2025). Menurut Eddy, game online kini jadi sasaran empuk bagi jaringan terorisme untuk menyebarkan paham radikal.
“Kami mencatat adanya pola di mana beberapa jaringan terorisme di Indonesia merekrut anak-anak muda lewat media sosial, termasuk game online, dan telah kami tindaklanjuti,” ujar Eddy.
Baca juga : Ketua Golkar Malut Tegaskan Maju Lagi
Di kesempatan lain, Eddy menyebut, fenomena ini menyasar anak-anak dan remaja. “Sedikitnya 13 anak dari berbagai daerah di Indonesia telah terhubung melalui permainan daring Roblox, yang kemudian menjadi pintu masuk bagi jaringan simpatisan teroris,” jelas Eddy.
Dari yang awalnya bermain game, interaksi para pemainnya bisa bergeser ke platform komunikasi tertutup, seperti Telegram dan WhatsApp. Disinilah doktrin soal paham ekstrim dapat terjadi. Sebab komunikasi mereka akan lebih intens.
Cara ini merupakan merupakan pola rekrutmen baru. Anak-anak dan remaja, katanya, bukan hanya menjadi target propaganda di media sosial, tetapi juga dalam game online yang mereka mainkan sehari-hari. “Sehingga ini menjadi tantangan besar bagi semua pihak,” imbuhnya.
Baca juga : Apresiasi BGN Lakukan Perbaikan, Gerindra Datangi MBG Sampai Ke Dapur-dapur
Eddy mengungkapkan fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara. Pada 2024, seorang remaja 16 tahun di Singapura ditangkap karena membuat simulasi zona militer Afghanistan di Roblox. Permainan itu menarik banyak pengikut sebelum kemudian dipindahkan ke grup tertutup untuk penyebaran ideologi radikal.
Pakar terorisme Noor Huda Ismail mengamini temuan BNPT tersebut. Menurutnya, kelompok ekstrem kini memang lebih gencar bergerak di ruang digital.
“Media sosial dan game online itu murah, mudah diakses, dan jangkauannya luas. Kalau mereka bergerak offline, sekarang sudah ketat pengawasannya,” kata Huda, Kamis (13/11/2025).
Baca juga : Dony Oskaria: Saatnya Terbang Lebih Tinggi
Huda menyebut, penyebaran paham radikal lewat internet sudah sistematis. “Mereka gunakan media sosial persis seperti pebisnis membangun merek dan mencari pelanggan,” ujar pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian itu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya