BREAKING NEWS
 

BI-Rate Tetap 4,75 Persen, Pertumbuhan Ekonomi Terus Digenjot

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Rabu, 19 November 2025 15:54 WIB
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 November 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen. (Foto: dok. BI)

 Sebelumnya 
Ketidakpastian pasar keuangan global kembali meningkat di tengah terjadinya temporary government shutdown dan arah suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). 

Pertumbuhan ekonomi AS masih melambat akibat berlanjutnya dampak tarif dagang AS dan sempat berhentinya aktivitas Pemerintah yang terlama sepanjang sejarah, yang berdampak pada tetap lemahnya kondisi ketenagakerjaan AS.

Perlambatan ekonomi juga terjadi di Jepang, China, dan India akibat permintaan domestik yang belum kuat. Sementara ekonomi Eropa tumbuh lebih tinggi dari prakiraan akibat realisasi pertumbuhan di triwulan III 2025 yang ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi, seiring pelonggaran kebijakan moneter.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025 diprakirakan tetap sekitar 3,1 persen. Dari pasar keuangan, ketidakpastian kembali meningkat, dipengaruhi oleh penurunan suku bunga kebijakan bank sentral AS yang dinilai pasar lebih berhati-hati (less dovish).

Kebijakan tarif yang menahan penurunan inflasi AS serta kondisi pasar tenaga kerja yang belum kuat akibat kebijakan imigrasi dan berhentinya aktivitas Pemerintah di AS, diprakirakan mendorong the Fed menahan penurunan Fed Funds Rate (FFR) di sisa tahun 2025.

Aliran modal global ke komoditas emas dan aset keuangan AS sebagai safe haven assets terus berlanjut, sehingga mendorong peningkatan harga emas dan penguatan indeks mata uang dolar AS (DXY).

Baca juga : Tamsil Linrung: Daerah Dorong Pertumbuhan 8 Persen

Sementara itu, aliran modal ke emerging market (EM) lebih terbatas ke pasar saham. Perkembangan ini memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak rambatan global, menjaga ketahanan eksternal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri dengan tetap menjaga stabilitas.

Pertumbuhan Ekonomi 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan perlu terus ditingkatkan, agar sesuai dengan kapasitas perekonomian. 

Ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 tumbuh 5,04 persen (yoy), ditopang kinerja ekspor yang tetap baik. Serta konsumsi Pemerintah yang meningkat seiring percepatan belanja Pemerintah. Sementara konsumsi rumah tangga dan investasi perlu terus didorong, agar dapat memperkuat permintaan domestik.

Secara sektoral, sebagian besar Lapangan Usaha (LU) utama menunjukkan kinerja positif, termasuk LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta LU Informasi dan Komunikasi.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tercatat di wilayah Jawa dan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua). Pada triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat, didukung stimulus fiskal melalui implementasi proyek prioritas dan Paket Kebijakan Ekonomi Pemerintah 2025, serta bauran kebijakan Bank Indonesia yang mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.

Konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh lebih tinggi didorong kenaikan ekspektasi penghasilan, khususnya pada kelompok menengah ke bawah. Sejalan dengan tambahan bantuan sosial Pemerintah, serta kenaikan mobilitas dan aktivitas masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Baca juga : HKI Usulkan PPN Turun Bertahap Ke 8 Persen Untuk Pacu Industri Dan Ekonomi

Investasi, khususnya nonbangunan, diprakirakan lebih tinggi. Ini tercermin dari indeks Prompt Manufacturing Index (PMI) yang tetap pada level ekspansif.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi tahun 2025 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7-5,5 persen dan akan meningkat pada 2026. 

Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas.

Neraca Pembayaran  

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap terjaga baik, sehingga mendukung ketahanan eksternal. Pada triwulan III 2025, transaksi berjalan diprakirakan mencatat surplus, sejalan dengan kenaikan ekspor nonmigas. Ditopang ekspor minyak kelapa sawit (CPO) ke India, logam mulia dan perhiasan ke Swiss, serta batu bara ke China.

Transaksi modal dan finansial, serta penanaman modal langsung diprakirakan tetap positif sejalan prospek ekonomi domestik yang tetap baik. Sedangkan investasi portofolio diprakirakan mengalami net outflows, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Pada triwulan IV 2025, investasi portofolio hingga 17 November 2025 membaik dengan net inflows sebesar 1,8 miliar dolar AS. Ini terutama ditopang aliran masuk investasi ke saham.

Baca juga : Sektor Pertambangan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah

Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2025 meningkat jadi 149,9 miliar dolar AS. Setara pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Secara keseluruhan, NPI 2025 diprakirakan tetap berdaya tahan, dengan transaksi berjalan keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada pada kisaran surplus 0,1 persen sampai dengan defisit 0,7 persen dari PDB.

NPI pada 2026 diprakirakan tetap baik, didukung defisit transaksi berjalan yang rendah dan sehat. Serta aliran modal yang meningkat, sejalan prospek ekonomi Indonesia yang lebih baik.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense