BREAKING NEWS
 

Melalui Percepatan Fiskal Dan Investasi Tahun 2026

Pertumbuhan Ekonomi Bakal Tembus 6 Persen

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Minggu, 4 Januari 2026 06:45 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan dalam Konferensi Pers APBN Kita Desember 2025 di Jakarta, Kamis (18/12/2025). Foto: KHAIRIZAL ANWAR / RM

 Sebelumnya 
Dalam menghadapi risiko global, termasuk perlambatan ekonomi dunia dan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), BI menyiapkan antisipasi untuk menjaga inflasi, stabilitas nilai tukar, dan ekspektasi pasar.

“Sepanjang 2025 BI telah menurunkan Suku Bunga Acuan (SBA) sebesar 125 basis poin (bps) untuk memperkuat konsumsi dan investasi. Hal ini disertai intervensi terukur guna menjaga stabilitas rupiah,” ujar Perry.

Di bidang digitalisasi, pengembangan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) serta perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan BI-FAST terus diperkuat sebagai fondasi inklusi keuangan dan daya saing ekonomi digital nasional.

Baca juga : Resolusi Tahun Baru 2026, Demokrat Konsisten Perkuat Demokrasi

“Digitalisasi menjadi pilar penting untuk memperluas akses keuangan, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia,” tutup Perry.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai, Pemerintah perlu memperkuat arah kebijakan insentif pada sektor produksi, agar pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan pada 2026.

“Penguatan tersebut penting agar akselerasi ekonomi tidak hanya bersifat jangka pendek, namun mampu meningkatkan daya saing industri nasional dan kinerja ekspor,” kata Esther kepada Rakyat Merdeka, Jumat (2/1/2026).

Baca juga : Kantor DPD Golkar Kembali Disegel Kader

Menurutnya, selama ini kebijakan insentif lebih banyak diarahkan pada konsumsi karena memberi dorongan cepat terhadap pergerakan ekonomi.

Ke depan, dukungan yang lebih kuat pada sektor produktif, terutama industri manufaktur berorientasi ekspor, dinilai penting untuk memperkokoh fondasi pertumbuhan. “Jika Pemerintah ingin mendorong peningkatan ekspor pada sektor tertentu seperti tekstil dan elektronik, insentif sebaiknya diarahkan pada faktor biaya yang memengaruhi harga akhir produk,” ujar Esther.

Menurut dia, insentif pada kegiatan produksi memiliki efek pengganda yang lebih luas dan berjangka panjang terhadap perekonomian nasional.

Baca juga : Bareskrim Bongkar Sindikat Judi Online Internasional

“Devisa akan bertambah, lapangan kerja terbuka lebih lebar dan pendapatan per kapita ikut naik, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi lebih sustain,” pungkasnya. NOV

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 8, edisi Minggu, 4 Januari 2026 dengan judul "Melalui Percepatan Fiskal Dan Investasi Tahun 2026, Pertumbuhan Ekonomi Bakal Tembus 6 Persen"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense