BREAKING NEWS
 

Penguatan Sektor Keuangan, GIAR Dorong Kaderisasi Akuntan Publik

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : SRI NURGANINGSIH
Rabu, 7 Januari 2026 17:21 WIB
Grand Launching KAP GIAR dan Diskusi Publik di Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026). (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kantor Akuntan Publik Gunawan Ikhwan Abdurahman dan Rekan (KAP GIAR) mendukung penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2025 yang merupakan aturan turunan dari UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Fokus utama peraturan ini adalah pembentukan Platform Bersama Pelaporan Keuangan (PBPK) atau Financial Reporting Single Window, yang mewajibkan penyampaian laporan keuangan terintegrasi satu pintu bagi entitas di Indonesia.

Dengan aturan ini, laporan keuangan menjadi lebih efisien dengan meniadakan redundansi pelaporan ke berbagai lembaga (OJK, DJP, Kemenkumham). Cukup satu kali unggah, data terdistribusi otomatis.

Selain itu, meningkatkan kredibilitas data: Laporan keuangan wajib disusun oleh personel kompeten, meningkatkan kepercayaan investor dan kredibilitas ekonomi nasional.

Partner KAP GIAS Muhammad Mansur mengatakan, aturan ini memang akan membuat biaya penyusunan hingga audit laporan keuangan kian mahal. Namun, mahalnya biaya itu dinilai sebanding dengan dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional.

“Tapi dibandingkan dampak ekonominya ke depan, ini harus kita dorong transparansi ekonomi ,” kata Mansur saat Grand Launching KAP GIAR dan Diskusi Publik "Era Baru Transparansi Akuntansi" di Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026).

Baca juga : Bakornas Fokusmaker Dorong Evaluasi Pilkada Langsung, Soroti Biaya Politik

Dalam diskusi yang menghadirkan narasumber Kepala PPPK Kementerian Keuangan Erawati dan Dewan Pengurus Nasional Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tubagus Manshur sebagai narasumber dan modetaror Ketua Pusat Kajian Akuntansi Forensik Indonesia (PUSAKAFI) Muhammad Mansur ini, KAP GIAR menyatakan komitmennya untuk ikut mendorong tata kelola ekonomi yang transparan.

Namun di sisi lain, organisasi profesi ini menyoroti soal krisis kaderisasi akuntan publik. Saat ini, jumlah akuntan publik hanya sekitar 1.700 orang. Dari jumlah itu, sekitar 1.000 orang berusia di atas 51 tahun.

Artinya, dalam 5–10 tahun ke depan, Indonesia terancam kehilangan sekitar seribu akuntan publik aktif.

“Kalau dilihat peta ini, ini justru peluang besar bagi generasi muda. Anak lulusan SMA bisa kita didik secara terstruktur. Empat tahun mandiri, tujuh tahun menjadi pengusaha jasa profesi, dan sepuluh tahun ke depan bisa menjadi pemimpin,” ujar Mansur. 

Adsense

Mansur menilai masih terdapat kesenjangan besar antara dunia akademik dan praktik profesi. Pengalaman mengajar di berbagai kampus menunjukkan lulusan akuntansi masih membutuhkan pelatihan intensif selama 2–3 tahun agar mampu merespons kebutuhan profesi secara tepat.

“Profesi akuntan itu sama dengan kedokteran. Setelah lulus sarjana, butuh masa pembentukan praktik. Bedanya, ini belum sepenuhnya disadari di dunia akuntansi,” ucapnya.

Baca juga : Perluas Akses Keuangan, BRILink Agen Di Banyuasin Ini Permudah Transaksi Warga

KAP GIAR juga menegaskan bahwa jalur menjadi akuntan publik kini semakin terbuka. Tidak harus selalu dimulai dari sarjana akuntansi, meski tetap dibutuhkan komitmen dan proses panjang.

Dia menyarankan agar generasi muda yang memang bercita-cita menjadi akuntan publik, sebaiknya menekuni jalur tersebut sejak awal. GIAR mengaku telah membuka ruang magang dan mentoring bagi mahasiswa. Namun, magang singkat dinilai tidak cukup.

“Itu butuh persemaian yang terus-menerus. Mentoring dengan mentor yang tepat. Jangan instan," ujarnya.

Masalah lain yang disoroti adalah ketimpangan sebaran akuntan publik. Di era digital, kaderisasi bisa dilakukan di daerah.

"Kita buat kantong-kantong pendidikan, pembelajaran online, dosen tamu datang secara periodik. Pendidikan bisa jauh lebih murah,” ujarnya.

Managing Partner KAP GIAR Ikhwan Ashadi menambahkan, GIAR telah menyiapkan rencana kerja 5–10 tahun untuk mencetak akuntan muda secara nasional.

Baca juga : Kehidupan Aceh Perlahan Pulih

“Kami butuh dukungan semua pihak, mulai dari Kementerian, Pemda, regulator, hingga pengusaha. Karena dalam 5–10 tahun ke depan, kita akan kehilangan sekitar seribu akuntan publik. Ini peluang besar bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk menjadi profesional bernilai tinggi ini,” kata Ikhwan.

Dia menambahkan, Indonesia memiliki sumber daya dan potensi ekonomi yang jauh lebih besar.

“Target kami, dalam 5–10 tahun ke depan, Indonesia bisa mencetak sedikitnya seribu akuntan muda baru untuk kebutuhan nasional,” pungkas Ikhwan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense