BREAKING NEWS
 

IHSG Sempat Anjlok, Lalu Menguat

Airlangga & Purbaya Turun Tangan Tenangkan Pasar

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 30 Januari 2026 08:08 WIB
Ilustrasi IHSG. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seharian kemarin, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau sangat fluktuatif. IHSG sempat anjlok tajam pada awal perdagangan sebelum akhirnya kembali menguat saat penutupan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun turun tangan untuk menenangkan pasar.

IHSG dibuka melemah 292,72 poin atau 3,52 persen ke level 8.027,82 pada Kamis (29/1/2026). Tekanan jual berlanjut hingga sesi pertama perdagangan. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat membekukan perdagangan (trading halt) setelah IHSG merosot hingga 8 persen ke level 7.654,66.

Respons cepat pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI berhasil meredam tekanan pasar. IHSG perlahan bangkit dan akhirnya ditutup menguat di level 8.232,20. Pelemahan masih dipicu aksi panic selling pelaku pasar pascapengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait proses review dan rebalancing saham Indonesia.

Airlangga menilai perbaikan sentimen tersebut sebagai sinyal positif bahwa pasar mengapresiasi gerak cepat pemerintah dan otoritas terkait. “Alhamdulillah, wa syukurillah,” ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Pemerintah, kata dia, telah membahas mekanisme lanjutan guna menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar modal nasional. Meski demikian, Airlangga enggan sesumbar mengingat kondisi pasar masih dalam tahap pemulihan.

Ia berharap IHSG terus menguat dengan dukungan sentimen positif dari pelaku pasar. “Mudah-mudahan. Belum to the moon, tenang saja,” ujarnya berseloroh.

Pemerintah menekankan pentingnya reformasi dan transparansi sebagai kunci utama dalam merespons evaluasi MSCI. Langkah tersebut, menurut Airlangga, sejalan dengan kebijakan yang tengah disiapkan OJK.

Baca juga : Mensesneg Pastikan Tidak Ada Reshuffle

Terkait peningkatan free float menjadi 15 persen, Airlangga menilai kebijakan tersebut sudah memadai untuk saat ini, asalkan dibarengi dengan keterbukaan informasi yang jelas. Pemerintah juga menaruh perhatian khusus pada praktik saham gorengan.

“Dengan transparansi, free float itu kelihatan siapa saja. Itu sudah memitigasi saham gorengan,” jelasnya.

Sementara itu, Purbaya meminta investor tetap tenang. Menurutnya, gejolak yang terjadi di bursa bersifat sementara sebagai respons atas pandangan MSCI dan tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

Purbaya justru memandang kondisi tersebut sebagai momentum bersih-bersih dari praktik yang tidak sehat. Ia optimistis fondasi ekonomi nasional akan semakin kokoh seiring dengan pembenahan birokrasi yang tengah dilakukan.

Dengan kondisi tersebut, Purbaya meyakini tekanan pasar hanya berlangsung singkat. Ia memperkirakan gejolak pasar akan mereda dalam dua hingga tiga hari setelah pernyataan MSCI, sebelum IHSG kembali menguat.

Adsense

“Optimis 10 ribu, enggak usah takut. Kan akhir tahun. To the moon, jangan takut. Fondasi kita bagus. Kan saya Menteri Keuangannya,” ujarnya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani turut meminta BEI menindaklanjuti pandangan MSCI guna menjaga kepercayaan investor. Menurutnya, pasar modal Indonesia perlu meningkatkan transparansi dalam setiap aktivitas perdagangan.

Baca juga : Thomas Tak Kepikiran Bakal Jadi Gubernur BI

Rosan menegaskan, fundamental perusahaan-perusahaan di Indonesia masih relatif kuat, meski IHSG sempat tertekan. Namun, ia mengingatkan MSCI merupakan barometer penting bagi investor global. “Tentunya kita harus segera menindaklanjuti masukan dari MSCI,” ujarnya.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai, pandangan MSCI sebagai “jamu” untuk mendorong perbaikan struktural. “Saya serahkan kepada regulator karena ini fakta. Bagi Danantara, fokus kami tetap berinvestasi,” katanya.

Pandu menilai kebijakan regulator akan menentukan posisi pasar modal Indonesia, apakah tetap bertahan sebagai emerging market atau justru turun menjadi frontier market. Ia menyebut negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, hingga sejumlah negara Afrika sebagai contoh pasar frontier yang berisiko ditempati Indonesia jika pembenahan tidak dilakukan.

Menurutnya, investor membutuhkan pasar modal yang lebih dalam, likuid, dan sehat agar mampu menyerap investasi jangka panjang.

OJK Berkantor Di BEI

Merespons kondisi IHSG, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyatakan akan berkantor di BEI mulai Jumat (30/1/2026) guna menjaga kepercayaan investor. Langkah tersebut menjadi bagian dari percepatan reformasi pasar modal, khususnya di bidang transparansi dan integritas.

“Ini kepentingan nasional agar BEI setara dengan standar pasar internasional. Kuncinya adalah reformasi yang memperbaiki transparansi dan integritas, dan itu harus berjalan cepat, tepat, dan efektif,” kata Mahendra di Gedung BEI, Kamis (29/1/2026)

Baca juga : IHSG Anjlok, Menkeu: Nggak Usah Takut, Pasti Rebound

Mahendra menilai, penjelasan MSCI sebagai masukan yang konstruktif, mengingat lembaga tersebut tetap memasukkan saham Indonesia dalam indeks global. Oleh karena itu, fokus regulator tidak hanya pada intervensi jangka pendek, tetapi juga reformasi struktural.

OJK bersama BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan menindaklanjuti proposal penyesuaian yang disampaikan MSCI, khususnya terkait perhitungan free float. Penyesuaian tersebut akan dilakukan hingga memenuhi standar yang dapat diterima MSCI.

Senior Advisor to Listing Directorate BEI Saptono Adi Junarso mengatakan, pihaknya telah memetakan sejumlah perbaikan regulasi jangka pendek dan jangka panjang. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan pasar modal nasional dengan standar global tanpa menabrak regulasi domestik.

Ia mengakui terdapat sejumlah hambatan dalam mengakomodasi permintaan revisi regulasi dari MSCI, meski belum dapat dirinci. Saptono berharap revisi aturan dapat disahkan paling lambat Maret 2026, sebelum tenggat waktu MSCI pada Mei 2026.

“Namun perbaikan ini tidak boleh menabrak regulasi keuangan nasional yang berlaku,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense