RM.id Rakyat Merdeka - Lima puluh tahun bukan usia yang singkat bagi sebuah forum energi. Dalam rentang waktu itu, industri energi Indonesia telah melewati pasang surut.
Dari masa keemasan minyak dan gas (migas) bumi hingga era transisi energi yang menuntut perubahan arah. Seluruh fase tersebut tercermin dalam perjalanan Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex), yang kini memasuki usia emasnya.
Namun sebelum bicara masa depan, Indonesia masih dihadapkan pada persoalan mendasar di sektor hulu minyak dan gas bumi. Lapangan-lapangan migas menua, produksi menurun, sementara kebutuhan energi domestik terus meningkat.
Kondisi itu disampaikan secara terbuka oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
“Sumur-sumur tua ini mau tidak mau harus kita intervensi lewat teknologi. Tidak ada cara lain. Dari total sekitar 39.000 sampai 40.000 sumur, yang beroperasi hanya 17.000 sampai 18.000 sumur. Selebihnya idle well karena sudah tua. Nah, ini yang kita kerja samakan,” ujar Bahlil saat menghadiri Sidang Pleno ke-18 Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (15/2/2026).
Pernyataan itu menggambarkan tantangan struktural sektor migas nasional.
Baca juga : Soft Diplomacy Prabowo Subianto Di Inggris Menentukan Masa Depan Dunia
Di satu sisi, migas masih menjadi penopang ketahanan energi. Di sisi lain, sumber produksinya kian menua dan membutuhkan intervensi teknologi serta investasi besar agar tetap produktif.
Bahlil menegaskan perlunya terobosan untuk mempercepat pengembangan sumur-sumur migas yang telah masuk dalam plan of development atau rencana pengembangan.
Tanpa percepatan eksekusi, potensi cadangan migas berisiko hanya menjadi catatan di atas kertas. Sebagai langkah strategis, Kementerian ESDMnjuga akan membuka tender bagi 110 blok minyak dan gas bumi baru.
Program ini diharapkan mampu menarik investasi, teknologi, serta memperkuat kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta.
Namun, menurut Bahlil, kunci keberhasilan bukan sekadar rencana besar, melainkan kecepatan eksekusi dan kolaborasi yang solid.
Di titik inilah relevansi IPA Convex menjadi nyata. Pada dekade-dekade awal, forum ini menjadi etalase optimisme industri migas nasional.
Baca juga : Mendes: Desa Penentu Masa Depan Indonesia
Eksplorasi dan produksi digenjot, investasi asing berdatangan, dan minyak serta gas bumi menjadi tulang punggung pembangunan.
Indonesia bahkan sempat dikenal sebagai salah satu produsen minyak utama di kawasan. Seiring waktu, lapangan migas menua dan isu perubahan iklim mengubah lanskap global.
Industri migas berada di persimpangan: tetap relevan bagi ketahanan energi, tetapi dituntut bertransformasi.
Perubahan itu tercermin dalam wajah IPA Convex hari ini, yang tak lagi sekadar ajang bisnis migas, melainkan ruang dialog strategis lintas kepentingan.
Gas bumi kemudian diposisikan sebagai energi transisi karena emisinya lebih rendah dibandingkan batu bara. Sejalan dengan itu, teknologi carbon capture and storage (CCS) atau penangkapan dan penyimpanan karbon, serta carbon capture, utilization, and storage (CCUS) atau penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon, mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari solusi menuju energi rendah karbon.
Momentum reflektif ini menguat ketika Indonesian Petroleum Association meluncurkan The 50th Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition 2026, yang akan digelar pada 20–22 Mei 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD City, Tangerang, dengan tema “The 50th IPA Convex: Shaping the Future of Energy”.
Baca juga : Kunjungan Ke Norwegia, Menlu Sugiono Jajaki Kerja Sama Energi Hingga MBG
Ketua Panitia IPA Convex 2026, Hariadi Budiman, menegaskan bahwa edisi ke-50 menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan jangka panjang di sektor energi nasional.
“Ini bukan hanya acara IPA, tetapi milik seluruh industri migas yang menjadi bagian dari prioritas ketahanan energi nasional,” ujarnya pada acara Exhibition and Sponsorship Launch for IPA Associate Members and Public di Tangerang, Senin (10/11/2025).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association, Marjolijn Wajong, menilai edisi ke-50 ini sebagai refleksi perjalanan panjang sekaligus komitmen bersama pemerintah dan industri dalam memperkuat kebijakan, investasi, dan inovasi energi.
Setengah abad IPA Convex menandai pergeseran narasi besar. Migas tidak lagi diposisikan sebagai lawan energi bersih, melainkan sebagai bagian dari solusi, jembatan menuju sistem energi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan sumur tua dan tuntutan transisi, IPA Convex tetap berdiri sebagai penanda arah masa depan energi Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.