BREAKING NEWS
 

Diprediksi Tumbuh 5% di Tengah Konflik Global, Ekonomi Kita Tahan Banting

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : UJANG SUNDA
Sabtu, 28 Maret 2026 08:48 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah konflik global, ekonomi Indonesia diprediksi tetap tumbuh di atas angka 5 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri, ekonomi bisa tumbuh hingga 6 persen tahun ini. Pemerintah memiliki sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan sekalipun terjadi konflik global.

Strategi itu di antaranya ialah memfokuskan kebijakan fiskal dan moneter secara sekaligus untuk menggerakkan aktivitas usaha. Belanja Pemerintah akan gencar dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) akan akomodatif.

"Tumbuh 6 persen harusnya tidak terlalu sulit. Di atas buku ya, tapi di lapangan kan kita perlu dorongan-dorongan seperti yang lain-lain supaya lebih cepat lagi. Tapi yang jelas, mesin-mesin itu sudah kita hidupkan," kata Purbaya, di kantornya, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Bendahara Negara membantah sejumlah pandangan bahwa ekonomi Indonesia akan jatuh. "Jadi hampir pasti kita tidak menuju resesi apalagi krisis," tegasnya.

Di tengah tekanan konflik global, Purbaya akan fokus menggelontorkan belanja negara tepat waktu sebagai faktor pendorong aktivitas ekonomi domestik sambil terus memperbaiki iklim usaha dan likuiditas perekonomian terjaga.

"Saya pastikan likuiditas sistem perekonomian cukup. Saya pastikan belanja Pemerintah tepat waktu. Saya usahakan perbaikan iklim usaha seoptimal mungkin," tegasnya.

Dari berbagai indikator utama ekonomi, seperti indeks keyakinan konsumen, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur, hingga data penjualan motor dan mobil, Purbaya menilai, kondisi ekonomi Indonesia hingga kini tetap terjaga dan arahannya menuju pertumbuhan.

"Nanti kalau lebih tinggi dari 5,5 persen, kita makan-makan seperti saya janjikan kemarin. Jadi bukan saya optimis, saya melihat data," cetusnya.

Purbaya paham apa yang harus dilakukan di tengah situasi saat ini. "Saya tahu apa yang saya masukkan ke sistem perekonomian supaya ekonominya bergerak. Data-data itu adalah dampak dari kebijakan di belakang yang anda nggak ngerti," urainya.

Baca juga : Akibat Disiram Air Keras, Aktivis KontraS Butuh Operasi 2 Tahun

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto juga memastikan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan resilien di tengah konflik dunia yang terjadi. Fundamental ini didukung koordinasi kebijakan yang solid serta daya tahan ekonomi domestik yang terjaga.

Stabilitas makroekonomi juga terjaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11 persen (yoy), sementara inflasi tetap berada dalam koridor sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Dari sisi permintaan domestik dan sektor riil, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, didukung oleh berbagai stimulus fiskal dan program bantuan sosial. Aktivitas manufaktur juga menunjukkan kinerja yang kuat dengan PMI sebesar 53,8 yang berada pada fase ekspansi dan menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Ketahanan fiskal juga tetap terjaga dengan kinerja APBN yang solid. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh sebesar 30,4 persen (yoy), didukung oleh reformasi perpajakan dan implementasi digitalisasi melalui sistem coretax yang terus memperkuat basis penerimaan negara serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Selain itu, kata Haryo, ketahanan pangan dan energi nasional semakin kuat. Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama serta mencatat surplus produksi biodiesel. Kondisi ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak global, termasuk dampak dari konflik geopolitik.

Pemerintah juga terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, serta akselerasi digitalisasi. Pengembangan sektor kendaraan listrik dan energi baru terbarukan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Pemerintah tetap optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026, dengan stabilitas yang terjaga serta reformasi struktural yang terus berjalan. Pemerintah juga akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global, sekaligus memastikan daya tahan ekonomi nasional tetap kuat.

"Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global. Sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan," ucap Haryo.

Analisa dari ekonom menunjukkan hal serupa. Ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperkirakan, ekonomi di kuartal I-2026 akan tumbuh sebesar 5,5 persen (yoy). Momentum Lebaran beserta sejumlah inisiatif Pemerintah akan mendorong pertumbuhan tersebut.

Adsense

Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah momentum peningkatan konsumsi sepanjang kuartal ini, bahkan sejak awal periode. Pada awal tahun, misalnya, aktivitas konsumsi meningkat seiring perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Selanjutnya, pada pertengahan kuartal I, kegiatan ekonomi didorong momentum Imlek dan Ramadan. Memasuki Maret sebagai akhir kuartal I, konsumsi pun kembali meningkat seiring perayaan Idul Fitri.

Baca juga : Kasih 5 Syarat, Iran Siap Akhiri Perang

Wijayanto menjelaskan, secara tren, momentum Nataru dan Idul Fitri kerap menyumbang sekitar 30–40 persen dari total belanja ritel tahunan. Karena itu, ia meyakini aktivitas konsumsi tersebut akan tercermin pada pertumbuhan ekonomi kuartal I.

"Belanja masyarakat selama Nataru dan Lebaran akan berdampak sangat tinggi bagi ekonomi kuartal I-2026, sehingga target pertumbuhan 5,5 persen akan tercapai," ujar Wijayanto, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (26/3/2026).

Ia menilai, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I akan terdistribusi secara merata. Mengingat, masyarakat khususnya pemudik, cenderung membelanjakan uangnya di daerah asal. Hal ini diharapkan dapat membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I menjadi lebih inklusif.

"Lebaran selalu mempunyai dampak besar bagi geliat ekonomi, termasuk ekonomi daerah yang mendapatkan guyuran dana dari para pemudik," imbuh Wijayanto.

Ia juga menuturkan, stimulus ekonomi Pemerintah memiliki peranan besar dalam mendongkrak konsumsi di kuartal I. Bahkan, kebijakan Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi ojek daring bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal ini, meski dampaknya diproyeksi relatif terbatas.

"Nilai BHR sebesar Rp 400 miliar mungkin belum signifikan jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi Indonesia. Kendati demikian, bagi driver ojol, ini merupakan bantuan yang luar biasa bermanfaat dan pantas diapresiasi," pungkasnya. 

Laporan terbaru NEXT Indonesia Center menunjukkan, momentum Lebaran menjadi periode vital bagi ekonomi Indonesia yang ditandai dengan lonjakan tajam jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat. Pertumbuhan likuiditas yang signifikan ini mencerminkan peningkatan daya beli dan kesiapan konsumsi rumah tangga nasional.

"Jumlah uang kartal atau uang tunai dalam bentuk kertas maupun logam yang diedarkan untuk kebutuhan jelang Lebaran 2026 mencapai Rp 1.370 triliun. Angka tersebut lebih tinggi 10,4 persen atau naik Rp 130 triliun dibandingkan menjelang Lebaran 2025 yang hanya Rp 1.240 triliun," ujar Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis.

Ade menambahkan, jumlah uang tunai yang beredar pada Lebaran tahun ini mencapai rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir. "Lebaran 2026 adalah momentum emas. Kita sedang menyaksikan mesin ekonomi domestik bekerja pada kapasitas optimal," ucapnya.

Kenaikan pertumbuhan uang kartal atau uang tunai jelang Lebaran mencerminkan resiliensi ekonomi nasional. Sekaligus menjadi bukti nyata penguatan aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput. 

Baca juga : Niru Yaqut, Tersangka Korupsi Rame-rame Minta Jadi Tahanan Rumah

Aspek menarik lainnya terlihat pada jumlah uang yang berada langsung di kantong masyarakat (di luar kas perbankan). Menjelang Lebaran 2026, dana siap belanja tercatat mencapai Rp 1.241 triliun, naik Rp 104 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.137 triliun.

Pertumbuhan likuiditas ini berjalan selaras dengan gairah mobilitas masyarakat yang terekam dalam data arus mudik. Kementerian Perhubungan dalam portal strategi.kemenhub.go.id mencatat kenaikan volume penumpang yang impresif pada semua moda transportasi dalam periode delapan hari menjelang Lebaran (H-8) hingga Hari H Idul Fitri 2026 atau yang biasa sering disebut periode arus mudik. 

Sektor transportasi air melalui kapal (ASDP) menjadi lini dengan penambahan jumlah pemudik terbesar. Jumlah penumpang yang diberangkatkan melalui moda ini naik dari 2,33 juta orang pada 2025 menjadi 2,69 juta orang pada 2026. Artinya, ada tambahan sekitar 360 ribu pemudik di jalur penyeberangan.

"Peningkatan penumpang di jalur laut ini sangat krusial karena mengindikasikan pemerataan sirkulasi ekonomi antar-pulau," ungkap Ade.

Di jalur darat, angkutan umum seperti bus juga menunjukkan tren positif. Terdapat tambahan 145 ribu pemudik yang diberangkatkan, yang mengerek total penumpang dari 1,44 juta orang pada 2025 menjadi 1,59 juta orang pada tahun 2026.

Jumlah pemudik yang diberangkatkan menggunakan kereta api juga mengalami kenaikan. Tercatat ada 1,83 juta penumpang pada 2026, atau naik 193 ribu penumpang dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 1,63 juta penumpang. 

Sektor penerbangan pun menyumbang kenaikan pemberangkatan dengan tambahan 72 ribu penumpang. Secara total, sebanyak 2,4 juta orang memilih menggunakan pesawat terbang pada periode jelang Idul Fitri 2026, naik dari 2,32 juta orang pada tahun sebelumnya.

"Sinkronisasi antara likuiditas dan mobilitas ini adalah kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Masyarakat memiliki daya beli dan mereka memiliki akses mobilitas untuk membelanjakannya di kampung halaman, yang secara otomatis menghidupkan ekosistem ekonomi lokal," kata Ade.

NEXT Indonesia Center memproyeksikan bahwa gabungan antara dana siap belanja sebesar Rp 1.241 triliun dan masifnya arus mudik ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal pertama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense