RM.id Rakyat Merdeka - Ketegangan di Timur Tengah (Timteng) menekan pasar dalam negeri. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun kembali rontok.
Dalam penutupan perdagangan Senin (30/3/2026), rupiah turun 22 poin atau 0,13 persen ke level 17.002 per dolar AS. Ini adalah rekor terendah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang sejarah.
Kondisi lesu tidak dihadapi rupiah sendirian. Mayoritas mata uang di negara-negara Asia juga rontok. Dolar Hong Kong turun 0,04 persen, dolar Singapura turun 0,15 persen, dolar Taiwan turun 0,19 persen, won Korea Selatan turun 0,37 persen, peso Filipina turun 0,29 persen, dan rupe India turun 0,42 persen.
Merespons pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) meluncurkan instrumen baru dalam operasi moneter. Yakni, transaksi repo dalam valas dengan underlying Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI).
Baca juga : Indonesia dan Jepang Saling Memperkuat dan Melengkapi
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar. Instrumen ini juga diterapkan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dan mempercepat pendalaman pasar uang maupun pasar valas (PUVA).
"Dalam pelaksanaannya, transaksi repo valas ini dapat diikuti dealer utama (primary dealer) PUVA," terang Erwin, Senin (30/3/2026).
Kehadiran instrumen ini bisa memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas. Selain itu, penambahan fitur repo kepada BI semakin memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA).
"Melalui penguatan tersebut, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI diharapkan akan semakin meningkat. Sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut," tutur Erwin.
Baca juga : Aksi "No Kings" Meluas, Trump Didemo 8 Juta Warga AS
Di bursa saham, IHSG juga ikut rontok, dengan turun 5,38 poin atau 0,08 persen ke level 7.091,6. Total nilai yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 14,94 triliun terhadap 25,12 miliar saham dengan frekuensi 1,66 juta kali transaksi. Sebanyak 272 saham menguat, 403 melemah, dan 149 stagnan.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memandang, pelemahan rupiah dan IHSG merupakan merupakan dampak perang di kawasan Teluk. Pelaku pasar waspada terhadap meningkatnya eskalasi perang, usai Houthi menyerang Israel.
“Selain itu, pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan memperpanjang durasi serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April,” ujarnya.
Analis ekonomi politik pasar saham Kusfiardi menyatakan, saat ini pelaku pasar sangat hati-hati. Apalagi, kapal minyak Indonesia belum bisa melewati Selat Hormuz.
Baca juga : Pangan RI Tidak Tergantung Timteng
Kusfiardi menyebut, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan di kawasan Teluk, sambil menerapkan strategi ultra defensif. Pertama, pelaku pasar bakal melakukan selektivitas sektor. Tujuannya untuk menghindari sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan suku bunga, seperti properti dan otomotif. Kedua, pelaku pasar bakal fokus kepada likuiditas yang lebih menjanjikan cuan.
Mereka akan mengalihkan eksposur ke saham-saham perbankan besar alias big caps. "Pilihannya perbankan dengan fundamental kuat dan sektor telekomunikasi yang lebih tahan banting terhadap gejolak komoditas," ulas Kusfiardi.
Ketiga, pelaku pasar bakal melirik instrumen investasi lindung nilai dengan mempertimbangkan keamanan aset. Misalnya, emas sebagai pelindung nilai terhadap volatilitas nilai tukar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.