RM.id Rakyat Merdeka - Guncangan ekonomi global yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah serta dinamika perdagangan dan keuangan internasional dinilai memberi tekanan berlapis terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi sektor riil maupun keuangan.
Pengamat Ekonomi Dr Aryo DP Irhamna menyebutkan, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi tekanan terhadap ekonomi nasional. Pertama, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi menambah defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia sebesar 3 hingga 4 miliar dolar AS untuk setiap kenaikan sekitar 10 dolar AS per barel.
Kedua, fragmentasi kebijakan tarif Amerika Serikat yang masih diliputi ketidakpastian. Tarif yang sebelumnya berada di kisaran 32 persen turun menjadi 19 persen, dengan opsi tarif 10 persen dalam skema tertentu yang masih menunggu hasil investigasi. Ketidakpastian ini dinilai mengganggu stabilitas perdagangan global.
Ketiga, membanjirnya produk impor dari China, terutama di sektor baja, elektronik, dan tekstil, yang belum mampu dibendung secara efektif oleh kebijakan non-tarif di dalam negeri.
Keempat, fenomena decoupling teknologi antara Amerika Serikat dan China yang menempatkan Indonesia dalam posisi terjepit. Sekitar 34 persen impor mesin Indonesia berasal dari China, sementara 25 persen total impor nasional juga bergantung pada negara tersebut. Di sisi lain, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat berada pada kisaran 12 hingga 13 miliar dolar AS.
Baca juga : Menkeu Soal Inflasi 3,48 Persen: Salah Tanggap, Seolah-olah Ekonomi RI Kepanasan
Di sektor energi, Aryo menyoroti kesenjangan antara produksi dan konsumsi minyak nasional yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa posisi Indonesia tidak bisa dilihat hanya sebagai importir minyak. Indonesia masih merupakan eksportir bersih energi, dengan komoditas unggulan seperti batu bara, gas alam cair (LNG), dan minyak kelapa sawit (CPO).
“Yang perlu dilihat bukan hanya kenaikan biaya impor BBM, tetapi bagaimana perubahan net term of trade saat seluruh harga energi naik,” kata Aryo.
Ia menambahkan, lebih dari 80 persen jalur pengiriman minyak mentah Indonesia melewati Selat Hormuz yang rawan terganggu konflik, sehingga berpotensi mengancam impor energi sekitar 28 miliar dolar AS. Sementara itu, total ekspor energi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 54,5 miliar dolar AS, dengan impor BBM sebesar 28,5 miliar dolar AS, sehingga menghasilkan surplus neraca energi sekitar 26 miliar dolar AS.
Sementara itu, ekonom Dr Halim Alamsyah menilai tekanan dari konflik Timur Tengah juga terasa melalui jalur keuangan dan ekspektasi pasar. Ia menjelaskan terdapat empat jalur transmisi utama terhadap stabilitas ekonomi, yakni perdagangan, keuangan, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), serta ekspektasi.
Baca juga : Pemerintah Ingatkan PPIU, Taati Aturan!
Dari sisi perdagangan, Halim menilai dampaknya relatif terbatas. Nilai perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi tercatat hanya sekitar 3 hingga 5 miliar dolar AS per tahun, sementara dengan negara kawasan Teluk lainnya seperti Uni Emirat Arab juga tidak signifikan terhadap total perdagangan nasional.
Namun, dari sisi keuangan, risiko justru meningkat. Ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap aman seperti emas. Harga emas bahkan sempat menyentuh 5.000 dolar AS per ons sebelum terkoreksi ke sekitar 4.600 dolar AS per ons.
Penurunan harga emas terjadi seiring ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat akibat potensi inflasi global, yang mendorong investor kembali ke aset berbasis dolar AS.
Lebih lanjut, Halim menyoroti arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia yang disebutnya sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Investor domestik maupun asing disebut masih menahan dana di luar negeri di tengah tingginya ketidakpastian.
“Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel hanya menambah risiko yang sudah ada dalam sistem keuangan kita,” ujarnya.
Baca juga : Soal Konflik Timur Tengah, Nurul Arifin: DPR Harus Jadi Teladan Hemat Energi
Ia menambahkan, jalur ekspektasi menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi kondisi ekonomi. Ketika pelaku pasar memiliki ekspektasi negatif terhadap inflasi atau pertumbuhan ekonomi, arus modal keluar dapat terjadi dalam waktu singkat.
Di sisi lain, Halim juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen selama sekitar 15 tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai dapat memunculkan keraguan terhadap kredibilitas pertumbuhan di mata investor global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.