Dark/Light Mode

Konflik Timur Tengah Jadi Momentum Perkuat Hulu Migas Nasional

Kamis, 12 Maret 2026 10:04 WIB
Foto: SKK Migas
Foto: SKK Migas

RM.id  Rakyat Merdeka - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat dinilai dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat industri hulu minyak dan gas bumi (migas) guna meningkatkan ketahanan energi nasional.

Direktur Eksekutif ReforMiner Komaidi Notonegoro mengatakan dinamika geopolitik global yang memicu lonjakan harga energi menunjukkan pentingnya peningkatan cadangan dan produksi migas domestik.

“Industri hulu migas nasional memiliki posisi strategis dan peran penting terhadap ketahanan energi serta stabilitas APBN Indonesia,” kata Komaidi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca juga : Kemenhut Gelar Peringatan Nuzulul Quran, Perkuat Spiritualitas Rimbawan

Menurut dia, sejak Indonesia berstatus sebagai negara net oil importer, kenaikan harga minyak global lebih banyak memberikan tekanan terhadap fiskal dibandingkan memberikan tambahan penerimaan negara.

Data sensitivitas APBN 2026 menunjukkan setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp 6,8 triliun dalam satu tahun anggaran.

Kenaikan harga tersebut memang meningkatkan pendapatan negara dari sektor hulu migas sekitar Rp 3,5 triliun, namun di sisi lain juga mendorong peningkatan belanja negara hingga sekitar Rp 10,3 triliun.

Baca juga : Menko Pangan Percepat Swasembada Garam Nasional

Dengan asumsi ICP dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel, jika harga minyak rata-rata mencapai 90 dolar AS per barel hingga akhir tahun maka tambahan defisit anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp 136 triliun. Sementara jika harga minyak naik hingga 100 dolar AS per barel, tambahan defisit berpotensi meningkat hingga sekitar Rp 204 triliun.

Komaidi menjelaskan tekanan fiskal tersebut dapat dikompensasi melalui peningkatan produksi migas nasional. Berdasarkan perhitungan ReforMiner, setiap tambahan produksi minyak sekitar 38.000 barel per hari selama satu tahun anggaran dapat mengimbangi dampak kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel terhadap defisit APBN.

Selain itu, peningkatan produksi gas bumi sekitar 53.000 barel setara minyak per hari (boepd) juga dapat memberikan kompensasi fiskal yang serupa.

Baca juga : Kapolri Ingatkan Ojol dan Buruh Jaga Persatuan Dan Stabilitas Nasional

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mempercepat peningkatan cadangan dan produksi migas nasional sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas fiskal negara di tengah ketidakpastian geopolitik global.

ReforMiner menilai penguatan sektor hulu migas tidak hanya berperan dalam menjaga pasokan energi domestik, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk meminimalkan dampak ekonomi akibat gejolak harga energi global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.