BREAKING NEWS
 

Rupiah Tembus 17.300, Pengusaha Cenat-cenut

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Minggu, 26 April 2026 07:40 WIB
Nilai tukar rupiah tembus Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah yang sempat tembus ke level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat pengusaha cenat-cenut. Pasalnya, pelemahan tersebut membuat biaya produksi dan operasional naik. Rupiah menyentuh level Rp 17.300 per dolar pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026). Pada sesi penutupan, ditutup melemah ke level Rp 17.308 per dolar AS. 

Mata Uang Garuda mulai menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4/2026). 

Rupiah menguat ke level Rp 17.280 per dolar AS. Rupiah kembali ditutup menguat ke Rp 17.229 per dolar AS. 

Penguatan ini tidak lepas dari komitmen Bank Indonesia (BI) yang terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meski demikian, dunia usaha sudah telanjur merasakan tekanan. 

Baca juga : Jemaah Haji Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengatakan, pelemahan rupiah hingga Rp 17.300 per dolar AS turut memengaruhi psikologi pelaku usaha karena berdampak pada biaya operasional.

Jika kondisi ini berlangsung lama, pelaku usaha berpotensi menyesuaikan harga. “Dia berharap pemerintah melakukan evaluasi dan mitigasi agar pelemahan tidak berlanjut,” katanya di Jakarta, Jumat (24/4/2026). 

Senada dikatakan Direktur Eksekutif dan Direktur Insight Kadin Institute Fakhrul Fulvian. Dia menilai, pelemahan rupiah membawa tekanan nyata bagi dunia usaha, terutama dari sisi pembiayaan. 

Menurut Fakhrul, tekanan saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal, seperti lonjakan harga energi, sehingga pelemahan rupiah sulit dikendalikan sepenuhnya oleh faktor domestik. 

Baca juga : Satriwan Salim: Ada Ketidakadilan Pada Tata Kelola Guru

“Kita sadar pelemahan rupiah tidak bisa sepenuhnya dikontrol. Kita berharap pemerintah dapat memberikan bantalan bagi dunia usaha di tengah tekanan ini,” ujarnya. 

Fakhrul memproyeksikan, pelemahan rupiah bersifat sementara seiring kondisi global yang belum stabil. Namun, domi­nasi dolar AS dalam transaksi energi global turut mendorong lonjakan permintaan terhadap mata uang tersebut. 

“Ketika harga minyak tertekan dan semua harus membeli minyak, permintaan dolar menjadi sangat tinggi, tidak seperti biasanya,” jelasnya. 

Menurut Fakhrul, tekanan tersebut akan mereda jika kondisi geopolitik global mulai stabil. Namun saat ini, pengusaha sudah merasakan kenaikan biaya operasional, khususnya dari sektor energi dan bahan baku. 

Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Usulan Ini Memiliki Landasan Yang Kuat

“Sudah terasa. Harga energi, dan bahan baku seperti plastik meningkat. Kita harapkan kondisi ini bisa segera diatasi,” ujarnya. 

Adsense

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut fluktuasi rupiah perlu disikapi dengan ekstra hatihati oleh dunia usaha. Khususnya di tengah tekanan likuiditas global. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense