BREAKING NEWS
 

Industri Migas Didorong Naik Kelas, Kurangi Ketergantungan Impor

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Minggu, 3 Mei 2026 21:05 WIB
Foto: IAFMI.

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri minyak dan gas (migas) Indonesia dinilai berada di titik krusial. Ketergantungan pada impor pipa dan peralatan strategis, keterbatasan teknologi, serta lemahnya basis industri domestik menjadi tantangan utama untuk naik kelas dalam rantai nilai global.

Dalam upaya mendorong penguatan industri penunjang migas, khususnya manufaktur pipa seamless, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI), Gede Pramona, bersama pengurus IAFMI melakukan kunjungan pabrik (factory visit) ke fasilitas produksi Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan industri Krakatau Steel, Cilegon.

Kunjungan tersebut juga dihadiri Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI), S. Herry Putranto, yang turut mendorong penguatan strategi peningkatan daya saing industri pipa dalam negeri.

Saat ini, produk pipa seamless nasional telah mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 46 persen.

Baca juga : Santri Tremas Didorong Kuasai AI, Wapres Gibran: Jangan Jadi Penonton

Dari diskusi yang berlangsung, muncul dorongan kuat agar Indonesia bertransformasi dari ekonomi berbasis ekstraksi sumber daya menuju kemampuan industri yang lebih maju.

Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas, Hendrik Kawilarang Luntungan, menegaskan pentingnya langkah tersebut.

“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Adsense

PT Artas Energi Petrogas melalui produk IST disebut telah menunjukkan kapasitas industri nasional.

Baca juga : PGN Gagas Dukung Perluasan Bauran Energi Melalui CNG

Sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia, perusahaan ini berkontribusi menyumbang devisa hingga Rp 15 triliun melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia dan Timur Tengah.

Produk IST juga telah digunakan dalam berbagai proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan standar internasional API 5CT dan API 5L, yang menunjukkan daya saing industri dalam negeri di tingkat global.

IAFMI bersama KMI mendorong transformasi industri migas nasional dengan sejumlah target, antara lain penurunan impor peralatan migas, efisiensi biaya (cost recovery), peningkatan kualitas TKDN, lahirnya industri unggulan nasional, serta penguatan posisi Indonesia sebagai basis industri migas di Asia Tenggara.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti ketergantungan pada impor komponen kritikal, keterbatasan penguasaan teknologi dan riset (research and development/R&D), regulasi yang belum kompetitif, kesenjangan kualitas sumber daya manusia, serta lemahnya branding industri nasional di pasar global.

Baca juga : Dorong CNG, DPR Minta Kurangi Ketergantungan LPG Impor

Chairman KMI, S. Herry Putranto, menekankan pentingnya dukungan kebijakan untuk memperkuat industri nasional.

"Yang dibutuhkan adalah keberanian membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak pada kepentingan nasional, investasi teknologi yang serius, serta kesiapan SDM untuk bersaing di tingkat global,” ujarnya.

Kunjungan ini menjadi seruan bagi pemerintah untuk mempercepat reformasi regulasi, memperkuat kedaulatan rantai pasok, serta mendorong pembangunan ekosistem industri migas yang mandiri dan berdaya saing.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense