RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah tekanan geopolitik global yang terus menghantam rupiah, Bank Indonesia (BI) injak pedal lebih keras. Salah satunya dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Hal ini dilakukan demi memperkuat rupiah, menjaga inflasi, dan mengembalikan kepercayaan pasar terhadap ekonomi nasional.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) diputuskan, BI Rate naik 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Dengan demikian, suku bunga deposit facility naik 50 basis poin menjadi 4,25 persen dan suku bunga lending facility juga meningkat menjadi 6 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kenaikan BI Rate dilakukan demi menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan pelemahan. Langkah ini juga ditujukan menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran BI di kisaran 1,5-3,5 persen.
Menurut Perry, kenaikan BI Rate sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang mengutamakan stabilitas demi memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional dari dampak gejolak global. Ia optimistis rupiah akan cenderung menguat pada Juli hingga Agustus 2026.
Keyakinan itu ditopang langkah BI memperkuat intervensi valuta asing (valas) dan struktur bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing. "Kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri. Dan tentu saja akan mencukupi kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar," ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca juga : Amirul Hajj Tiba, Minta Jemaah Jaga Fisik Hadapi Armuzna
Perry memastikan keputusan menaikkan BI Rate telah dipertimbangkan secara matang, dengan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan pertumbuhan ekonomi. "Perkembangan terkini, berbagi informasi untuk prospek perkiraan ke depan, berbagi risiko-risiko, kita berdebat panjang, termasuk bagaimana merumuskan kebijakan," ungkap Perry menggambarkan dinamika pembahasan dalam RDG.
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu berbagai faktor global. Mulai dari kebijakan tarif, konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, arah suku bunga global yang ketat, hingga penguatan dolar AS yang mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, kebutuhan valas domestik pada April-Juni meningkat seiring musim haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan. BI juga memperbesar intervensi di pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Intervensi besar-besaran tersebut ikut menekan cadangan devisa (cadev). Meski levelnya dinilai masih memadai untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi.
Kenaikan BI Rate ini sejalan dengan harapan Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah. Menurutnya, kenaikan suku bunga menjadi salah satu cara efektif menghentikan pelemahan rupiah.
Baca juga : Satriwan Salim: Harus Dipersiapkan Dengan Baik Dan Matang
"Situasi global sedemikian rupa. Bahkan kita jangan pernah berharap suku bunga Amerika akan turun dalam waktu dekat," ujar politisi PDI Perjuangan itu di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Said menilai tekanan eksternal masih berpotensi membebani rupiah sehingga diperlukan respons moneter yang lebih agresif. "Maka diperlukan respons kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral," pintanya.
Sementara itu, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, keputusan BI menaikkan BI Rate merupakan langkah tepat, berani, dan diperlukan untuk mengembalikan jangkar stabilitas rupiah.
Menurut Fakhrul, keputusan tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi Indonesia bukan sekadar volatilitas biasa, melainkan fase yang membutuhkan respons moneter pre-emptive.
"Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal," ujar Fakhrul kepada Rakyat Merdeka, Rabu (20/5/2026).
Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Pengajarnya Jangan Sampai Belum Memadai
Ia memperkirakan kenaikan 50 basis poin dapat menjadi titik balik bagi rupiah. Menurutnya, rupiah berpotensi menguat bertahap menuju level Rp 17.300 per dolar AS, sebelum bergerak ke keseimbangan baru di kisaran Rp 16.800 per dolar AS.
"Rupiah sudah selesai fase overshooting-nya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru. Level Rp 17.300 menjadi titik berhenti pertama, dan apabila koordinasi kebijakan berjalan baik, rupiah bisa bergerak menuju Rp 16.800," urainya.
Fakhrul menilai pelaku pasar tak perlu terlalu defensif terhadap dolar AS. Kombinasi kenaikan BI Rate, intervensi valas, penguatan DNDF/NDF, serta perluasan transaksi CNH-Rupiah dan LCT diyakini mulai mampu mengendalikan tekanan terhadap rupiah.
"Ini saatnya mulai buang dolar AS secara bertahap. Bukan karena risiko global hilang, tetapi karena Indonesia akhirnya memberi respons kebijakan yang cukup kuat," imbuhnya. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.