RM.id Rakyat Merdeka - Isu pembatasan Pertalite bikin heboh publik. Di media sosial, kabar tentang mobil bermesin di atas 1.400 cc tak bisa lagi "minum" Pertalite mulai 1 Juni 2026, mendadak viral. Namun, Pemerintah memastikan kabar tersebut adalah hoaks alias tidak benar.
Narasi yang beredar luas itu memuat daftar merek dan tipe kendaraan yang diklaim bakal dilarang mengisi BBM subsidi jenis Pertalite mulai awal Juni mendatang. Rata-rata kendaraan yang dicantumkan memiliki kapasitas mesin di atas 1.400 cc.
Namun, Pertamina Patra Niaga membantah kabar tersebut. Hingga saat ini belum ada rencana maupun arahan dari Pemerintah terkait pembatasan pembelian Pertalite berdasarkan merek ataupun kapasitas mesin kendaraan.
“Informasi mengenai daftar merek kendaraan tertentu yang disebut tidak boleh membeli Pertalite mulai 1 Juni 2026 dipastikan tidak benar,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun dalam siaran persnya, dikutip Kamis (28/5/2026).
Dalam keterangannya, Pertamina Patra Niaga juga memastikan sampai saat ini tak ada rencana ataupun arahan dari pemerintah dan regulator terkait pembatasan maupun perubahan kebijakan BBM subsidi seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Baca juga : MUI, Menag, TGB & Istana Jelaskan Kurban Presiden
“Masyarakat kami imbau tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi,” tegasnya.
Roberth menekankan, Pertamina Patra Niaga hanya menjalankan mandat distribusi energi sesuai kebijakan resmi pemerintah. Pihaknya memastikan belum ada aturan terkait pembatasan pembelian Pertalite berdasarkan jenis kendaraan maupun kapasitas mesin.
“Sekali lagi kami tekankan, hingga saat ini tidak ada aturan atau arahan dari pemerintah terkait pembatasan Pertalite berdasarkan merk kendaraan tertentu maupun berdasarkan kapasitas mesin kendaraan,” tambahnya.
Pertamina juga memastikan layanan distribusi dan penyaluran Pertalite di seluruh SPBU masih berjalan normal seperti biasa.
Saat ini, pembelian BBM subsidi seperti Pertalite memang dilakukan melalui sistem QR Code MyPertamina dalam Program Subsidi Tepat. Namun, Pertamina menegaskan program tersebut tidak berkaitan dengan daftar kendaraan yang viral di media sosial.
Baca juga : AS-Iran Saling Serang Di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Meroket Lagi
Di tengah beredarnya isu tersebut, Pemerintah memastikan kondisi pasokan energi nasional tetap aman meski dunia tengah menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Tubagus Ace Hasan Syadzili menyatakan, ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kuat. Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan global.
Menurut Ace, meski dunia dihadapkan pada dinamika geopolitik dan ekonomi, pondasi ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat untuk menghadapi berbagai tekanan. Ace mengakui dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan gejolak di kawasan Teluk memang ikut mempengaruhi kondisi ekonomi global, termasuk Indonesia.
Meski demikian, ia memastikan Pemerintah telah mengambil langkah cepat untuk menjaga pasokan energi dalam negeri agar masyarakat tidak terbebani. Salah satunya tidak menaikkan harga BBM bersubsidi.
Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno yakin, kebutuhan BBM subsidi untuk masyarakat akan dipertahankan. "Pertalite, termasuk solar, juga untuk kebutuhan rumah tangga LPG, akan tetap dipertahankan," yakin Eddy kepada Rakyat Merdeka, Kamis (28/5/2026).
Eddy melihat, saat ini belum ada kondisi kedaruratan yang menyebabkan Pemerintah harus meningkatkan harga jual BBM bersubsidi. Sebab, APBN dinilai masih kuat untuk menanggung subsidi tersebut.
Baca juga : Muhamad Isnur: Bertentangan Dengan Semangat Reformasi
"Oleh karena itu, saya berkeyakinan subsidi akan tetap diberikan. Kecuali BBM premium untuk pasar premium," tekan Eddy.
Namun demikian, Pemerintah akan melihat sejauh mana kondisi geopolitik mempengaruhi harga minyak mentah. Menurutnya, "ada saatnya Pemerintah memutuskan apakah akan mengevaluasi harga BBM subsidi atau efisiensi belanja negara. [FAQ/BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.