BREAKING NEWS
 

2 Hari Alami Kenaikan, IHSG & Rupiah Bertenaga Lagi

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Kamis, 11 Juni 2026 08:00 WIB
Petugas menunjukkan lembaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di sebuah gerai penukaran valuta asing (money changer) di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Foto: Putu Wahyu Rama/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Koordinasi lintas sektor antara DPR, Pemerintah, dan Bank Indonesia (BI) mulai menunjukkan hasil. Pasar keuangan domestik mengalami kenaikan positif. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai bertenaga lagi.

Trend positif ini terjadi setelah DPR, Pemerintah, perwakilan himpunan bank negara (Himbara), sejumlah pimpinan BUMN melakukan rapat koordinasi, pada Selasa (9/6/2026). IHSG yang selama berhari-hari kebakaran, mulai bergerak hijau. 

Di hari yang sama, kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen, ikut menjadi stimulus penguatan pasar keuangan. Baik nilai tukar rupiah maupun IHSG menunjukkan penguatan dalam dua hari terakhir. 

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah berhasil menekan dolar AS hingga ke level Rp 17.953 dan menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbaik di Asia. Sebelumnya, pada Selasa (9/6/2026), rupiah sudah menguat 0,72 persen ke posisi Rp 18.058 per dolar AS. 

Baca juga : Harga BBM & Elpiji Subsidi Untuk Rakyat Kecil Tidak Naik

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah akan terus menguat secara bertahap pada semester II 2026. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah selama ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global, kondisi risk-off di pasar keuangan, serta tekanan pada transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik. 

Namun, seiring berjalannya waktu, tekanan tersebut diyakini dapat diredam melalui koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, termasuk perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE).

"Pemerintah optimistis dengan sinergi dan koordinasi yang lebih solid akan memperkuat pasokan valas di dalam negeri. Ditambah dengan perbaikan kepercayaan investor," ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6/2026). 

Pemerintah pun memasang asumsi nilai tukar rupiah pada kisaran Rp 16.800-Rp 17.500 per dolar AS dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebagai dasar penyusunan RAPBN 2027. Purbaya memperkirakan penguatan rupiah akan didukung sejumlah faktor, termasuk meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi global. 

Baca juga : Buntut OTT Bupati Muara Enim, KPK Amankan 5 Pegawai BPK

"Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah memperkirakan rupiah di 2027 terjaga stabil pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS," kata mantan bos Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (kiri), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan) dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Foto: Tedy Kroen/rm.id)

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah dipicu optimisme pasar terhadap keputusan BI menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen. 

"Kenaikan BI Rate dinilai membantu pemerintah dalam pelaksanaan lelang obligasi negara, khususnya obligasi tenor 10 tahun yang menawarkan imbal hasil sebesar 7,4 persen," ujar Ibrahim. 

Dengan tingkat imbal hasil tersebut, investor asing maupun domestik diharapkan kembali aktif berpartisipasi dalam lelang Surat Utang Negara (SUN). Kepercayaan pasar juga diperkuat oleh komitmen Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang memastikan tidak mengambil margin keuntungan dari ekspor komoditas strategis serta tetap menghormati kontrak-kontrak yang telah berjalan dalam skema tata kelola ekspor baru. 

Adsense

Baca juga : Penguatan Organisasi, PSI Aceh Bakal Roadshow Ke Seluruh Kabupaten/Kota

Menurut Ibrahim, kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu keberlangsungan bisnis eksportir. "Langkah tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi dalam tata kelola ekspor komoditas strategis nasional," katanya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense