BREAKING NEWS
 

Pasokan BBM Lancar, Apakah Harga Pertamax Akan Turun?

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Kamis, 18 Juni 2026 08:00 WIB
Pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax di SPBU Pertamina Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026). (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Harga minyak dunia mulai melandai seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah. Pasokan BBM juga bakal lancar seiring dibukanya blokade di Selat Hormuz. Dengan kondisi ini, apakah harga Pertamax akan turun? Semoga saja. 

Sinyal perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) direspon positif pasar. Pada perdagangan Selasa (16/6/2026), harga minyak dunia turun sekitar 5 persen dan menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir.

Mengutip Reuters, minyak mentah Brent merosot 4,21 dolar AS atau 5,1 persen menjadi 78,96 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 4,7 dolar AS atau 5,8 persen menjadi 76,05 dolar AS per barel. 

Baca juga : Menag Calon Kuat Gantikan Gus Yahya

Meski sempat muncul keraguan investor terhadap prospek perdamaian sehingga harga minyak kembali menguat tipis pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Namun, level harga minyak masih jauh lebih rendah dibandingkan April 2026 yang sempat menembus 126,41 dolar AS per barel. 

Sebagai perbandingan, sebelum perang Iran dan AS meletus pada 28 Februari 2026, harga Brent berada di level 72,48 dolar AS per barel. Sedangkan harga WTI sebesar 67,02 dolar AS per barel. 

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian. Apabila harga minyak dunia terus menurun, harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya juga berpotensi mengalami penyesuaian. 

Baca juga : Menyaksikan Bergantinya Kiswah Di Malam Tahun Baru Hijriah

"Apakah harganya bisa turun? Pasti. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau harus ada penyesuaian harga keekonomiannya. Kalau tidak, akan memengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," ujar Anggia di Gedung Badan Komunikasi, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026). 

Anggia menjelaskan, selama harga minyak dunia tinggi, sejumlah negara telah menaikkan harga BBM nonsubsidi. Di Indonesia, kenaikan sempat ditahan untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, ketika tekanan harga semakin besar, Pertamina dan badan usaha swasta tidak lagi mampu membendung kenaikan. 

Apabila tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya ikut terkoreksi. "Kalau harga minyak dunia turun, pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi," terangnya. 

Baca juga : Meksiko Vs Korsel, Laga Penentuan Juara Grup

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat meyakini, harga BBM nonsubsidi akan turun jika harga minyak dunia bertahan di bawah 80 dolar AS per barel. 

"Untuk solar nonsubsidi dan Pertamax, apalagi kalau crude-nya bisa di bawah 80 dolar AS, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi," kata Firman di Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6/2026). 

Adsense

Menurut Firman, penyesuaian tersebut penting untuk memperkecil kesenjangan harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Ia menilai pemerintah selama ini cukup berhati-hati dalam menetapkan harga Pertamax agar tidak memicu perpindahan besar-besaran pengguna ke Pertalite. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense