Sebelumnya
"Jadi pemerintah saya kira sudah cukup berhati-hati untuk memastikan potensi perpindahan pengguna dari Pertamax ke Pertalite," ungkapnya.
Jika tren harga minyak di bawah 80 dolar AS per barel bertahan, DEN memperkirakan rata-rata harga minyak dunia sepanjang 2026 berada di kisaran 80-85 dolar AS per barel. Harga ini lebih rendah dibanding proyeksi awal yang mencapai 90-100 dolar AS per barel.
"Artinya, bedanya dengan asumsi APBN yang 70 dolar AS per barel masih relatif bisa dijaga, hanya selisih 10-15 dolar AS. Jadi kita yakin fiskal tetap aman dan defisit bisa dijaga di bawah 3 persen," urai Firman.
Baca juga : Menag Calon Kuat Gantikan Gus Yahya
Meski demikian, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Dipo Satria Ramli mengingatkan, penurunan harga minyak dunia tidak otomatis diikuti penurunan harga BBM di dalam negeri. Alasannya, harga BBM dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti cadangan minyak yang dimiliki pemerintah, harga saat pembelian cadangan, serta biaya penyimpanan.
"Jadi ketika harga minyak dunia turun, belum tentu diterjemahkan turun satu banding satu untuk harga di SPBU," ulas Dipo.
Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam meminta pemerintah dan Pertamina segera mengevaluasi harga Pertamax yang masih bertahan di level tinggi. Menurutnya, penyesuaian harga tidak seharusnya hanya dilakukan ketika harga minyak dunia naik.
Baca juga : Menyaksikan Bergantinya Kiswah Di Malam Tahun Baru Hijriah
Mufti menilai masyarakat selama ini selalu diminta memahami kondisi ketika harga BBM naik akibat gejolak global. Maka saat tekanan internasional mulai mereda dan harga minyak turun, manfaatnya juga harus dirasakan masyarakat.
"Ketika harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," kritik politisi PDI Perjuangan itu.
Menurut Mufti, harga BBM memiliki efek domino terhadap kehidupan masyarakat. Sebab, kenaikan BBM memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, harga pangan, hingga daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Baca juga : Meksiko Vs Korsel, Laga Penentuan Juara Grup
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi sinyal positif pada perdagangan minyak global. Apalagi, selama ini impor minyak Indonesia yang dilewati jalur tersebut mencapai 20 hingga 25 persen. Dia pun membuka kemungkinan Indonesia kembali mencari impor dari Semenanjung Arab itu.
"Kita memang sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara-negara lain. Tapi kalau harganya kompetitif maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita membuka akses pasar di Timur Tengah," ungkap Bahlil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (15/6/2026). [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.