RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghijau pada perdagangan Kamis (2/7/2026), tapi sentimen pasar masih lemah. Hal tersebut tercermin dari nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tekanan.
Sejak pembukaan perdagangan, Kamis (2/7/2026), IHSG menunjukkan penguatan dengan naik 34 poin atau 0,60 persen ke level 5.729. Indeks bahkan sempat melesat 97,05 poin atau 1,70 persen ke posisi 5.792,17 pada sesi pertama. Namun, penguatannya menyusut menjelang penutupan. Meski demikian, IHSG tetap ditutup menguat 49,44 poin atau 0,87 persen dibandingkan penutupan Rabu (1/7/2026), menjadi 5.744,56.
Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar rupiah justru melemah. Sejak awal perdagangan, rupiah turun 26 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 17.978 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, pelemahan berlanjut hingga penutupan perdagangan di level Rp 17.995 per dolar AS, atau turun 43 poin (0,24 persen) dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.952 per dolar AS.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, pasar saham mulai merespons membaiknya ekspektasi terhadap prospek korporasi dan arah kebijakan ekonomi, sedangkan pasar valuta asing masih menunggu proses stabilisasi di pasar obligasi Pemerintah.
Menurut dia, pasar saham umumnya lebih sensitif terhadap prospek pertumbuhan laba emiten, sedangkan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi arus modal global dan daya tarik instrumen pendapatan tetap Indonesia. Ia menambahkan, minat investor asing mulai kembali terlihat di pasar obligasi Indonesia, meski proses normalisasi belum sepenuhnya selesai.
Baca juga : Kritik Dibutuhkan, Tapi Tidak Boleh Merusak Demokrasi
Untuk menarik arus modal asing secara lebih kuat dan berkelanjutan, menurut Fakhrul, pasar obligasi domestik masih membutuhkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik guna mengompensasi tingginya risiko global.
"Tingkat imbal hasil obligasi negara perlu berada di kisaran 7,5 persen agar dapat mendukung stabilisasi rupiah sekaligus menarik kembali aliran dana investor asing," kata Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Fakhrul menambahkan, stabilisasi pasar obligasi akan menjadi faktor penting dalam memperkuat rupiah ke depan. Menurut dia, ketika investor global kembali melihat imbal hasil obligasi Indonesia cukup menarik dibandingkan risikonya, maka arus modal akan kembali masuk.
“Tekanan terhadap rupiah akan berangsur mereda," ujarnya.
Sementara, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, penguatan IHSG turut didorong ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.
Baca juga : Stok Beras Melimpah, Harganya Naik, Kesejahteraan Petani Turun
Sentimen tersebut muncul setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan tekanan inflasi di AS mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir. Sementara target inflasi tetap berada di level 2 persen.
Menurut Nico, penurunan harga energi dan bahan bakar seiring perkembangan positif hubungan AS dan Iran juga turut menopang optimisme pasar karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi global.
Selain mencermati perkembangan global, pelaku pasar juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan, 1,79 persen secara tahun kalender, dan 3,34 persen secara tahunan.
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit tersebut menjadi yang pertama dalam enam tahun terakhir setelah nilai impor melampaui ekspor.
Nico menilai, kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia di tengah perlambatan permintaan global dan penurunan harga sejumlah komoditas. Namun, menurut dia, dampaknya terhadap fundamental ekonomi masih terbatas selama surplus neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari–Mei 2026 tetap terjaga.
Baca juga : Pemerintah Jaga Terus Daya Beli Masyarakat
Senada, dikatakan Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi. Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Selain perkembangan pembicaraan antara Iran dan AS, pasar juga mencermati sejumlah faktor domestik, mulai dari defisit neraca perdagangan, kenaikan inflasi, kontraksi aktivitas manufaktur, hingga pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kemudian, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menjadi kontraksi terdalam dalam setahun.
Di sisi kebijakan, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan, bank sentral terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas pasar keuangan. Salah satunya, dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.