BREAKING NEWS
 

BEI Cermati Dan Lakukan Berbagai Upaya, Pasar Modal Terancam Bisa Turun

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Kamis, 9 Juli 2026 07:40 WIB
Ilustrasi, pasar modal.  (Foto: Khairizal Anwar/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Status pasar modal Indonesia terancam turun kasta dari emerging market menjadi frontier market. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun terus mencermati dan melakukan berbagai upaya untuk mencegah hal tersebut.

Ancaman penurunan status itu disampaikan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI). Dalam keterangannya, S&P DJI menyatakan pasar modal Indonesia masuk daftar pemantauan (watchlist). Jika tidak membaik, Indonesia berpotensi diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market. 

Pada saat yang sama, Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga mempertahankan kebijakan pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) untuk saham-saham Indonesia. Selain itu, MSCI belum menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) maupun memindahkan saham dari indeks Small Cap ke indeks Standard. 

MSCI juga menyatakan akan terus menyesuaikan estimasi free float berdasarkan data kepemilikan saham, termasuk menghapus sekuritas yang masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC). Evaluasi lanjutan dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya telah mencermati pengumuman S&P DJI yang menempatkan pasar modal Indonesia dalam proses evaluasi dengan hasil yang akan diumumkan pada 2027. Karena itu, BEI terus berkoordinasi dengan regulator dan penyedia indeks global. 

Baca juga : Saling Serang Di Selat Hormuz, Iran-AS Panas Lagi

“BEI akan menjalin komunikasi dan diskusi konstruktif untuk mendalami concern yang disampaikan dan memahami berbagai aspek yang menjadi perhatian dalam proses evaluasi tersebut,” kata Jeffrey di Jakarta, Rabu (8/7/2026). 

Menurut dia, Self Regulatory Organization (SRO) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus melakukan berbagai upaya untuk menjawab isuisu yang menjadi perhatian penyedia indeks global. Di sisi lain, BEI juga berkomitmen meningkatkan transparansi pasar modal guna menjaga aktivitas perdagangan yang wajar, teratur, dan efisien. 

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan, reformasi pasar modal hingga kini terus berjalan, antara lain melalui pengungkapan data klasifikasi investor secara lebih rinci, data pemegang saham di atas 1 persen, data free float, hingga data kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi. 

Adsense

“Kami masih terus melakukan review dan berkomunikasi dengan penyedia indeks global. Atas pengumuman S&P DJI, kami juga akan berdiskusi dengan S&P,” ujar Irvan. 

Ia memastikan, BEI akan terus berupaya menjaga kualitas pasar modal Indonesia, termasuk meningkatkan likuiditas perdagangan. “Kami berharap likuiditas pasar dapat kembali meningkat sehingga kualitas bursa tetap terjaga,” katanya. 

Baca juga : Masih Didalami KPK, Isinya Dolar Singapura

Sentimen dari pengumuman S&P DJI sempat menekan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu ditutup melemah 113,12 poin atau 1,89 persen ke level 5.837. 

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai kekhawatiran Indonesia turun menjadi frontier market masih terlalu dini. Menurut dia, hasil MSCI Market Classification Review pada Juni 2026 masih mempertahankan Indonesia sebagai emerging market. 

Hans menjelaskan, Indonesia saat ini masih memiliki 11 saham yang memenuhi tiga kriteria utama MSCI, yakni ukuran perusahaan, kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float, serta likuiditas perdagangan. 

“Jumlah itu masih jauh di atas syarat minimum tiga saham, sehingga peluang mempertahankan status emerging market masih terbuka,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/7/2026). 

Ia menilai, keputusan MSCI mempertahankan status pembekuan lebih mencerminkan proses evaluasi terhadap efektivitas reformasi pasar modal yang telah dilakukan regulator, termasuk penggunaan data HSC, transparansi kepemilikan saham, dan klasifikasi investor yang lebih rinci. 

Baca juga : Dimas P. Wardhana: Jangan Sampai Buruh Dibebani Berkali-kali

Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, risiko Indonesia turun menjadi frontier market telah berkurang dibandingkan sebelum keputusan MSCI pada Juni, meski belum sepenuhnya hilang. 

Menurut dia, tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada kelengkapan regulasi, melainkan implementasi reformasi yang mampu meningkatkan free float, transparansi, dan likuiditas pasar. 

“Pasar tidak panik terhadap review Agustus, tetapi tetap berhati-hati menjelang evaluasi November. Investor asing berbasis indeks masih menunggu kepastian sebelum menambah eksposur ke pasar Indonesia,” ujar Liza. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense