RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom Dr. Surya Vandiantara menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat dan stabil. Menurutnya, penilaian terhadap kondisi ekonomi nasional seharusnya didasarkan pada indikator makroekonomi, bukan semata-mata persepsi publik.
Surya mengatakan persepsi masyarakat memang menjadi masukan penting bagi pemerintah. Namun, persepsi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menggambarkan kondisi riil perekonomian nasional.
"Penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi tentu perlu menjadi perhatian pemerintah. Namun, untuk melihat kondisi ekonomi secara riil, acuannya tetap indikator-indikator fundamental yang dikeluarkan lembaga resmi," ujar Surya kepada wartawan, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah indikator ekonomi justru menunjukkan tren yang positif. Salah satunya adalah neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan surplus.
Baca juga : S&P Pertahankan Rating RI, BI Pastikan Stabilitas Ekonomi Tetap Kuat
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2025 atau tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar 41.052,2 juta dolar AS. Capaian tersebut melanjutkan tren positif tahun-tahun sebelumnya, yakni surplus sebesar 36.420,3 juta dolar AS pada 2023 dan 31.329,6 juta dolar AS pada 2024.
Selain itu, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga menunjukkan perbaikan. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kumulatif (cumulative to cumulative/C-to-C) pada 2025 mencapai 5,11 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 5,03 persen pada 2024 dan 5,05 persen pada 2023.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Ini menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas ekonomi nasional tetap bergerak positif," katanya.
Surya menambahkan, indikator lain yang mencerminkan ketahanan ekonomi nasional adalah posisi cadangan devisa. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.
Baca juga : Ramalan 3 Lembaga Dunia, Ekonomi RI Masih Tumbuh 5 Persen
Menurutnya, kombinasi surplus neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, serta meningkatnya cadangan devisa menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid di tengah berbagai tantangan global.
"Ketiga indikator fundamental tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam kondisi stabil dan terus bergerak maju," ujarnya.
Meski demikian, Surya mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan pandangan masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Menurutnya, persepsi publik yang belum sepenuhnya positif perlu menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan efektivitas komunikasi kebijakan.
Ia berpandangan, tantangan utama saat ini bukan terletak pada lemahnya kondisi ekonomi, melainkan belum optimalnya penyampaian berbagai capaian ekonomi kepada masyarakat.
Baca juga : Analis: Fundamental Ekonomi RI Kokoh, Fiskal Tetap Resilien
"Yang perlu dilakukan bukan membantah berbagai pandangan masyarakat, melainkan lebih proaktif menyampaikan capaian-capaian ekonomi yang telah diraih sehingga masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi perekonomian nasional," katanya.
Surya juga menilai kementerian dan lembaga yang membidangi sektor ekonomi perlu memperkuat komunikasi publik agar berbagai indikator positif yang telah dicapai dapat lebih dipahami masyarakat.
"Jika komunikasi berjalan lebih baik, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga diharapkan semakin sejalan dengan data-data fundamental yang ada," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.