Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan lonjakan konsumsi pemerintah pada awal 2026 memunculkan perdebatan baru mengenai daya tahan ekonomi Indonesia. Di satu sisi, rupiah sempat mendekati Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan akhir Mei 2026.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, dengan konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran yang tumbuh paling tinggi, yakni 21,81 persen.
Namun, Azis Subekti, mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Al Azhar Indonesia sekaligus anggota DPR RI Fraksi Gerindra, menilai pembacaan terhadap dua angka tersebut tidak boleh dilakukan secara terpisah dari struktur ekonomi nasional.
Menurut Azis, pertumbuhan konsumsi Pemerintah yang tinggi tidak otomatis berarti perekonomian Indonesia hanya ditopang oleh negara.
Sebab, dalam struktur produk domestik bruto, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dengan porsi 54,36 persen, disusul investasi atau pembentukan modal tetap bruto sebesar 28,29 persen.
Kedua komponen tersebut secara gabungan menyumbang 82,65 persen terhadap PDB triwulan I 2026. “Komponen yang tumbuh paling cepat belum tentu menjadi penopang utama ekonomi,” kata Azis dalam keterangannya, Senin (1/6/2025).
Baca juga : Kajian LAPI ITB Soroti Peran Digitalisasi Dongkrak Ekonomi UMKM
Berdasarkan pendekatan sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026, yakni 2,94 poin persentase. Investasi menyumbang 1,79 poin persentase, sementara konsumsi Pemerintah memberikan kontribusi 1,26 poin persentase.
Azis menilai data tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia tidak berdiri di atas satu kaki. Dia menyebut pergerakan ekonomi nasional masih ditopang kombinasi aktivitas masyarakat, dunia usaha, dan kebijakan negara.
“Kekuatan terbesar Indonesia berada pada pasar domestiknya sendiri, pada jutaan transaksi yang terjadi setiap hari,” ujarnya.
Menurut dia, aktivitas pedagang, petani, nelayan, pekerja, UMKM, hingga konsumsi keluarga sehari-hari merupakan mesin utama ekonomi nasional yang kerap luput dari perhatian publik.
Momentum Ramadan, Idulfitri, libur nasional, meningkatnya mobilitas masyarakat, serta ramainya sektor transportasi, restoran, hotel, dan perdagangan disebut turut menopang konsumsi rumah tangga pada awal 2026.
BPS juga mencatat konsumsi rumah tangga pada periode tersebut didorong oleh meningkatnya mobilitas penduduk saat libur nasional dan hari besar keagamaan.
Baca juga : Eks Komisioner Ombudsman Jadi Tersangka Perintangan Vonis Lepas Kasus CPO
Meski demikian, Azis mengingatkan optimisme domestik tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan tekanan eksternal. Pasar keuangan global, kata dia, kini semakin cepat memengaruhi ruang gerak negara melalui nilai tukar, arus modal, pasar obligasi, suku bunga global, dan harga energi.
Konteks tersebut terlihat dari tekanan terhadap rupiah sepanjang Mei 2026. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026 untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah volatilitas global.
Reuters mencatat rupiah berulang kali menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS, dipengaruhi antara lain oleh perang Iran, kekhawatiran terhadap rencana fiskal, independensi bank sentral, dan transparansi pasar modal. Tekanan juga berlanjut hingga akhir Mei.
Reuters melaporkan posisi bearish terhadap rupiah mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, dipicu penguatan dolar AS dan harga energi yang tinggi, sehingga investor meminta imbal hasil lebih besar untuk memegang aset negara berkembang yang sensitif terhadap minyak.
Azis mengatakan, kondisi itu menunjukkan pasar sedang memberi penilaian terhadap kredibilitas dan konsistensi kebijakan ekonomi Indonesia. Karena itu, negara perlu menjaga kepercayaan pasar tanpa kehilangan hubungan dengan denyut ekonomi rakyat.
“Pasar menyediakan likuiditas, rakyat menyediakan daya tahan. Pasar menyediakan modal, rakyat menyediakan permintaan. Pasar memberikan sinyal, rakyat memberikan kehidupan,” kata Azis.
Baca juga : Pengamat Sebut Rupiah Bukan Satu-satunya Indikator Ekonomi RI
Ia menilai tantangan Indonesia ke depan bukan hanya menjaga stabilitas rupiah atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen. Tantangan yang lebih mendasar adalah meningkatkan produktivitas rakyat agar pasar domestik tetap menjadi sumber ketahanan ekonomi.
Azis menyebut UMKM perlu naik kelas, koperasi harus diperkuat menjadi institusi ekonomi modern, petani dan nelayan perlu memperoleh akses teknologi serta pembiayaan yang lebih baik, sementara hilirisasi dan investasi harus menghasilkan pekerjaan, devisa, dan kapasitas produksi baru.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal yang tidak mudah dimiliki negara lain, yakni pasar domestik yang luas, masyarakat yang adaptif, dan ekonomi rakyat yang berulang kali menjadi bantalan ketika kondisi global terguncang.
“Ketika pasar memberikan penilaian, Indonesia harus mendengarkannya dengan cermat. Tetapi ketika menentukan arah masa depan, jangan pernah lupa siapa yang menjaga roda ekonomi tetap berputar,” ujar Azis.
Dia menegaskan, arah ekonomi nasional tidak semestinya hanya ditentukan oleh layar perdagangan di pusat keuangan global, tetapi juga oleh jutaan rakyat yang setiap hari bekerja, berproduksi, membuka usaha, dan menjaga kepercayaan terhadap masa depan.
“Pada akhirnya, pasar memang menilai. Tetapi rakyatlah yang menentukan,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya