Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Fundamental Ekonomi Kuat, KSSK Yakin Rupiah Akan Tetap Stabil Dan Menguat
Rabu, 6 Mei 2026 10:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan global dan keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik. Keyakinan itu ditopang pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengikuti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Rapat tersebut dihadiri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi, dan Ketua LPS Anggito Abimanyu.
Kepada wartawan, Airlangga mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20. Angka tersebut berada di atas China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, bahkan Amerika Serikat. Menurut dia, capaian itu juga melampaui proyeksi berbagai lembaga internasional yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,2 persen.
Airlangga memaparkan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen. Konsumsi pemerintah naik 21,31 persen. Kinerja ekspor-impor juga masih positif. Dari sisi sektoral, industri pengolahan, perdagangan, administrasi pemerintahan, transportasi dan pergudangan, pertanian hingga konstruksi menunjukkan pertumbuhan yang baik. Pemerintah juga mencatat inflasi berhasil ditekan menjadi 2,42 persen. Neraca dagang masih surplus selama 71 bulan berturut-turut sebesar 3,32 miliar dolar AS. Cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 mencapai 148 miliar dolar AS. Sementara realisasi investasi tumbuh 7 persen menjadi Rp 498,8 triliun.
Baca juga : Data Tunjukkan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Di Tengah Tekanan Global
Meski demikian, pemerintah mengakui adanya capital outflow atau modal asing yang keluar. Kondisi itu menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto dalam rapat bersama KSSK.
“Capital outflow tadi didalami. Disebabkan oleh pasar modal dan SBN,” kata Airlangga.
Namun pemerintah memastikan kondisi tersebut masih terkendali karena sebagian tekanan berhasil dinetralisasi melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. “Nilai tukar sekarang itu undervalue. Ke depan kami yakini akan stabil dan menguat,” ujar Perry.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih dipicu sentimen global dan faktor musiman. Mulai dari tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, menguatnya dolar AS, hingga keluarnya modal asing dari negara berkembang.
Baca juga : Pertimbangkan Kondisi Ekonomi, KSPSI Sarankan Kenaikan Iuran BPJS Ditunda
Selain itu, permintaan dolar AS meningkat pada April hingga Juni untuk kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, dan biaya haji. Meski begitu, Perry menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap sangat kuat. Karena itu, BI optimistis rupiah akan kembali stabil.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menyiapkan sejumlah langkah. Mulai dari intervensi pasar valas di dalam dan luar negeri, pembelian SBN di pasar sekunder, penguatan SRBI, hingga memperketat pembelian dolar tanpa underlying. BI juga memperkuat transaksi yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
“Fundamental kita kuat. Karena itu rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” tegas Perry.
Sementara itu, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen menunjukkan ekonomi Indonesia sedang mengalami akselerasi.
“Sebelumnya 5,39 persen. Sekarang 5,61 persen. Jadi ekonomi kita sedang mengalami percepatan,” kata Purbaya.
Baca juga : Stoknya Mencapai 5 Juta Ton, Amran Yakin Tidak Ada Manipulasi Data Beras
Menurut dia, banyak pelaku pasar belum menyadari arah positif tersebut sehingga muncul kepanikan yang memicu keluarnya dana dari pasar modal. Karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus menjaga kondisi likuiditas dan menyiapkan stimulus tambahan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua.
“Stimulus tambahan sedang disiapkan dan direncanakan mulai berjalan pada 1 Juni,” ujarnya.
Purbaya juga memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap aman meski tekanan global meningkat. Pemerintah, kata dia, telah menghitung berbagai risiko, termasuk asumsi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
“Fiskal tetap aman. Sudah kita perhitungkan,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya