Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- BPK Hormati Proses Hukum KPK, Pegawai Terlibat Akan Disidang Etik
- Kejagung Ungkap Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Terima Suap Rp 4,3 Miliar
- Pramono Sediakan Ruang Nobar Piala Dunia, Asal Jangan Ganggu Jam Kerja
- KPK Sita Rp 200 Juta dan Mobil SUV dari Kasus Suap Audit BPK
- Nama Disebut di Sidang Bea Cukai, Ini Klarifikasi Raffi Ahmad
DEN: Fundamental Masih Kokoh, Ekonomi Indonesia Masih Jauh dari Krisis
Rabu, 10 Juni 2026 07:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih kokoh meski berada di tengah gejolak geopolitik global. Oleh karena itu, DEN menilai perekonomian Indonesia masih jauh dari kondisi krisis.
Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat mengatakan, hal tersebut didukung oleh indikator fundamental makroekonomi Indonesia yang masih sangat solid.
Pandangan tersebut, lanjutnya, telah disampaikan DEN dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/6/2026).
"Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis," ujar Firman.
Baca juga : DPR Dorong Wisman Masuk Indonesia, Sektor Pariwisata Bisa Jadi Tameng Devisa Saat Krisis
Lebih lanjut, Firman merinci sejumlah indikator yang mencerminkan kokohnya fundamental ekonomi domestik.
Ia mengatakan bahwa Indonesia masih membukukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yakni mencapai 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.
Selain itu, Firman juga menyoroti inflasi Indonesia yang relatif stabil, yakni sebesar 3,08 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Namun, selain indikator makroekonomi dasar, ia juga menggarisbawahi kondisi neraca korporasi Indonesia yang masih sehat sebagai cerminan bahwa Indonesia tidak sedang memasuki fase krisis.
Baca juga : Menteri Ekraf: Animasi Indonesia Terbang Mendunia Bersama Garuda di Dadaku
Hal tersebut, lanjut Firman, tercermin dari utang perusahaan dalam denominasi dolar AS yang jauh lebih rendah dibandingkan saat krisis 1998.
Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis Bank Indonesia (BI) juga mengonfirmasi penurunan utang luar negeri korporasi.
Pada triwulan I 2026, posisi utang luar negeri swasta tercatat sebesar USD 191,4 miliar atau turun 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Firman mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah cukup baik dalam memitigasi risiko eksternal, terutama yang berasal dari fluktuasi nilai tukar.
Baca juga : Pemulangan Perdana Haji Indonesia Dimulai 1 Juni
"Jadi di tengah ketidakpastian yang terjadi, mereka (perusahaan) mestinya cukup bisa mitigasi," ujarnya.
Kendati demikian, Firman menegaskan bahwa Indonesia tetap perlu mewaspadai ketidakpastian global mengingat gejolak geopolitik berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan DEN.
Menurutnya, salah satu dampak gejolak global yang paling krusial dan perlu diantisipasi adalah kenaikan harga energi dunia, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi.
"Dan ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya. Kemudian di tengah ketidakpastian global ini saya kira confidence harus kita terus perkuat," pungkas Firman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya