RM.id Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia masih berada di jalur yang tepat. Pada triwulan II-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Hal itu ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, serta kebijakan Pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif. Terkendalinya inflasi, kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansi dan membaiknya neraca perdagangan menjadi sinyal penguatan ekonomi nasional.
“Pemerintah akan terus mengawal keberlanjutan tren ini melalui bauran kebijakan yang antispatif dan responsif. Dengan begitu, daya beli masyarakat tetap terjaga, industri semakin kompetitif dan prospek ekonomi nasional ke depan tetap cerah,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Baca juga : Gubernur Kalteng Kerahkan Ansor-Banser Cegah Karhutla
Airlangga mengatakan, Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Ketahanan pangan, ketahanan energi, serta pengendalian inflasi menjadi fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan memperkuat daya saing nasional.
Kinerja inflasi pada Juli 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen. Inflasi tercatat 2,88 persen secara tahunan, turun dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen.
Baca juga : Kru Kembali Selamat Ke Tanah Air, Kapal Pertamina Pride Lintasi Selat Hormuz
Stabilitas harga tersebut mencerminkan sinergi Pemerintah, Bank Indonesia, Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan harga.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan juga membaik. Sepanjang Januari-Juni 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan kumulatif 3,58 miliar dolar AS atau sekitar Rp 64,44 triliun.
Penguatan juga terlihat pada sektor manufaktur. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi dengan capaian 50,2 pada Juli 2026. Naik dari 46,9 pada bulan sebelumnya.
Baca juga : Jakarta Targetkan Sampah Ke Bantargebang Menyusut
“Ini menunjukkan fondasi ekonomi domestik kita solid dan kebijakan yang ditempuh Pemerintah berjalan efektif,” kata Airlangga.
Pemulihan manufaktur ditandai dengan meningkatnya pesanan baru yang mendorong kenaikan output untuk pertama kalinya sejak Februari 2026. Perusahaan juga mulai menambah tenaga kerja setelah lima bulan, sedangkan backlog pesanan tumbuh pada laju tercepat sejak November 2025.
“Perbaikan rantai pasok turut memperkuat kinerja industri domestik, sejalan dengan PMI Manufaktur ASEAN yang meningkat menjadi 52,8,” ucapnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.