RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) terus memantau ancaman global terhadap perekonomian Indonesia.
Ancaman itu mulai dari isu tapering off oleh the Fed, isu kegagalan bayar korporasi di pasar keuangan China hingga peningkatan kasus Covid-19 kembali di beberapa negara.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, meskipun hingga saat ini ekonomi dan aliran modal dinilai masih cukup baik, namun ancaman tersebut masih menjadi perhatian BI. Terutama yang menjadi gangguan aliran modal ke dalam negeri.
Baca juga : Belum Pernah Menang, Arema FC Ancam Depak Pelatih
"Saat ini pemerintah fokus memonitor setiap perkembangan yang terjadi. Kami pantau secara mingguan, setiap hari Selasa memantau perkembangan ekonnomi dan pasar keuangan global, bukan hanya di AS dan perkembangan baru dari The Fed dan pasar keuangan dunia," jelas Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Selasa (21/9).
Indonesia sambungnya, terus memperkuat fundamental, agar lebih tahan menerima goncangan dari global. Antara lain mempercepat pemulihan ekonomi dan menjaga agar tidak terjadi lagi peningkatan kasus Covid-19 di dalam negeri.
Menurutnya, dengan perkembangan-perkembangan ekonomi membaik di Indonesia. Perkembangan pasar modal di Indonesia juga akan mencerminkan kondisi fundamental dibandingkan teknikal.
Baca juga : BPIP: Implementasi Pancasila Butuh Kesadaran
Khusus dalam menghadapi ancaman tapering off The Fed, BI lanjut Perry, juga tengah melakukan stress test. Hasil dari stress test tersebut, menunjukkan tapering off kemungkinan akan berlangsung pada November 2021, dan dampaknya dinilai lebih kecil dibanding taper tantrum pada 2013.
Ia bilang, ada 3 alasan, pertama semakin jelasnya komunikasi The Fed dengan media, invetsor dan lainnya membuat rencana tersebut diterima baik. Kemudian, melihat suku bunga obligasi AS yang tidak naik secara signifikan.
"Ketiga, saat ini Indonesia ditopang oleh ketahanan eksternal yang terjaga dengan NPI (Neraca Pembayaran Indonesia yang membaik ditambah posisi cadangan devisa yang semakin kuat," imbuhnya.
Baca juga : Buruh Desak Pemerintah Batalkan Kenaikan Cukai Tembakau
Yang pasti, kata Perry, pertumbuhan ekonomi global 2021 diproyeksi tetap baik sekitar 5,8 persen. Volume perdagangan dan harga komoditas dunia tumbuh kuat, sehingga menopang prospek ekspor negara berkembang. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.