BREAKING NEWS
 

Danone-AQUA Bersama PBNU Gagas Film Pendek Pejuang Lingkungan

Reporter & Editor :
TEAM ADV
Jumat, 21 Mei 2021 13:42 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Danone-AQUA Bekerjasama dengan Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) melalui NU Channel menggagas sebuah film pendek yang mengisahkan perjuangan seorang nenek dan cucunya untuk menyelamatkan daerah mereka dari ancaman krisis air akibat kerusakan lingkungan berjudul “Nenek Bromo Tengger” hasil karya Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Imam Pituduh (Gus Imam) ini. 

“Gagasannya sebenarnya dari film ini yang pertama terhadap krisis ekologi. Kita melihat dunia ini mengalami ancaman krisis terutama krisis air,  di mana pada 2025-2030 dunia akan mengalami krisis air. Kedua adalah krisis ancaman bencana ekologi di Pulau Jawa, terutama di nusantara kita secara umum itu sudah luar biasa. Nah, dari dua landasan itulah kita kemudian ingin begaimana mewujudkan sustainable livelihood dan penopang kehidupan itu,” ujar Gus Imam, (20/5).

Baca juga : RS Yarsi Bersama Basarnas Gelar Simulasi Penyelamatan

“Yang online itu melalui jaringan seluruh sosial media dan perangkat satelit dan TV kita. Di luar itu, kita go to market atau GTM , kita edukasi teman-teman anak sekolah dan pesantren kita. Jadi, kita edukasi melalui jejaring yang ada di internal kita. Kita juga sebarkan film ini sampai ke kedutaan-kedutaan seluruh dunia. Karena, message-nya ini bukan hanya untuk Indonesia saja tapi untuk dunia juga,” jelasnya.

Adsense

Hal senada dikatakan Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, bahwa dukungan terhadap pembuatan film edukasi ini karena Danone memiliki semangat One Planet One Health yang seirama dengan tema film tersebut. “Kami percaya bahwa kesehatan manusia berkaitan erat dengan kesehatan planet kita, jadi kampanye dan edukasi untuk menjaga kesehatan planet harus mendapat dukungan dari semua pihak,” kata Arif.

Baca juga : Larangan Mudik Akan Berdampak Pada Penjualan Tekstil

Imam menambahkan: “Air sebagai penopang kehidupan itu tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya tanaman. Itu artinya, tanaman ini harus terus ada sehingga keberadaan air masih tetap ada. Jadi, kalau kita berbicara tentang air maka kita harus berbicara hutan. Nah, perintah agamanya, tanamlah pohon itu meski esok kiamat. Jadi meskipun besok ada kiamat, jika di tangan kita ada pohon, itu wajib ditanam. Jadi, itu yang menjadi landasan kenapa film ini harus ada,” tuturnya.

Mengenai alasan kenapa harus dimainkan tokoh nenek-nenek dan cucunya dalam film ini, menurut dia karena itu menggambarkan bahwa orangtua itu yang akan meneruskan ke generasi ke depan untuk cinta terhadap lingkungan. Selain itu, film ini juga menyelipkan pesan bagaimana mengalirkan air dari sumbernya ke hilir dengan baik. “Artinya, orang tidak boleh hanya berorientasi kepada eksploitasi, tapi bagaimana juga berorientasi kepada konservasi. Nah, ini kan juga kritik sosialnya kepada pemerintah yang harus hati-hati juga ke depan karena over eksploitasi terjadi. Jadi, neraca sumber daya alam dan air harus dikalkulasi ulang, sehingga penyangga kehidupan itu tidak hilang,” ungkapnya.

Baca juga : Puasa Bermanfaat Banyak Bagi Penderita Autoimun

Di luar isu pohon dan air, kata Gus Imam, isu ancaman sampah plastik terhadap lingkungan juga diangkat dalam film ini. Menurutnya, krisis ekologi itu salah satunya karena plastik juga. “Polusi sampah plastik itu menjadi isu dunia yang kita harus bisa membantu menyelesaikannya. Sampah plastik itu kan tidak bisa diurai oleh bakteri tanah, karenanya kita harus bisa menyelesaikan masalahnya. Apalagi sampah plastik ini belum banyak yang bisa menyelesaikannya. Industri daur ulang saja baru bisa menyerap kira-kira 60 persen sampah plastik ini. Yang 40 persen sisanya kan masih belum terselesaikan,” ujarnya. Oleh karena itu dalam film ini digambarkan bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan kemasan botol AQUA untuk kebutuhan sehari hari seperti menjadi pot tanaman di halaman rumah.

Selain itu, Bromo juga memiliki lokasi wisata yang sangat bagus yang masuk 10 prioritas destinasi wisata nasional tapi jarang diekspos. Menurut Gus Imam, ini harus digenjot, terutama melalui pintu Pasuruan. “Padahal, menurut saya kalau orang mau melihat pasir berbisik dan sunrise itu semua harus melalui pintu Pasuruan. Tapi selama ini Pasuruan belum terdorong. Para wisatawan masih melalui pintu lain, yaitu Probolinggo dan Malang,” pungkasnya. [ARM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense