RM.id Rakyat Merdeka - Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali menegaskan, menjadi tuan rumah penyelenggara perhelatan forum internasional KTT G20 adalah suatu kehormatan tersendiri bagi Indonesia.
Terlebih, saat ini dunia tengah mengalami krisis multidimensi.
"Saya menggambarkan kondisi dunia yang kita tinggali saat ini, sedang dilanda perfect storm atau badai yang sempurna. Semua negara dalam kondisi tidak baik-baik saja. Mulai negara maju, hingga superpower sekalipun," kata Luhut melalui laman Instagramnya, Sabtu (5/11).
"Terlebih negara berkembang yang sangat terdampak akibat gejolak perang dan perselisihan antar negara, yang tidak pernah kita tahu kapan selesainya," sambungnya.
Situasi ini tentu mempengaruhi harga komoditas Belum lagi, ada kemungkinan resesi, dan kemunduran menuju deglobalisasi.
Baca juga : Pupuk Indonesia Go Global Lewat Ekspansi Di Dubai
Itu belum termasuk krisis kesehatan, yang masih menghantui kita semua.
Kondisi dunia, bisa saja menjadi lebih parah dalam beberapa waktu.
"Di tengah ketidakpastian yang dialami seluruh negara saat ini, Indonesia mendapatkan kehormatan, sekaligus kesempatan menyelenggarakan KTT G20 2022 di Bali," ujar Luhut.
Dalam sepuluh hari ke depan, negara-negara dengan perekonomian besar di dunia akan duduk bersama, berdialog, dan berdiskusi. Sambil menekankan pentingnya kerja sama, demi mencapai pemulihan dunia yang inklusif, dan saling berkolaborasi di antara sesama anggotanya.
Ini diharapkan bisa menghasilkan solusi, atas permasalahan dunia saat ini.
Baca juga : Dorong Perusahaan China Tunaikan CSR
KTT G20 Bali tak hanya akan dihadiri oleh 19 negara anggota dan satu organisasi regional Uni Eropa, yang secara kolektif merepresentasikan 65 persen penduduk dunia, 79 persen perdagangan global, dan setidaknya 85 persen perekonomian dunia.
Tetapi juga negara-negara sahabat di kawasan Afrika, dan negara kepulauan lainnya.
"Sebagai orang yang cukup perfeksionis, saya tidak bisa tenang, jika persiapan G20 ini belum 100 persen terlaksana," tutur Lulusan Terbaik AKABRI tahun 1970 ini.
Meski faktanya, sudah banyak kepastian dari segala sisi. Baik perihal kehadiran delegasi, materi deliverables, event-event pendukung, agenda pertemuan antar kepala negara, dan lain sebagainya.
"Karenanya, hari ini, saya minta izin kepada Presiden Joko Widodo untuk berangkat lebih awal ke Bali. Untuk meninjau kembali persiapan final acara inti KTT G20. Sekaligus memastikan apa saja yang belum dan perlu, untuk diselesaikan demi kelancaran acara," papar Luhut.
Baca juga : Masyarakat Dan Santri Dieng Doakan Ganjar Pranowo Jadi Presiden 2024
Salah satu yang membuat Luhut gundah, adalah persoalan cuaca. Karena Gala Dinner yang menjadi salah satu agenda KTR G20, akan bertempat di alam terbuka, yaitu GWK Cultural Park.
"Tetapi saya yakin, dengan kesiapan dan kesigapan tim yang terdiri dari lintas Kementerian/Lembaga, kendala seperti ini akan bisa teratasi," ucap Luhut.
Sembari menatap awan mendung dari dalam pesawat yang ditumpangi, Luhut berpikir, ada untungnya juga Indonesia menyandang Presidensi G20 di masa-masa sekarang ini. Mengapa?
Karena inilah saat yang tepat, untuk membuktikan kepada dunia, tentang resiliensi ekonomi bangsa terhadap krisis.
"Jika gelaran G20 ini sukses, maka nama besar Indonesia akan terangkat dan menjadi rujukan pelaksanaan event berskala internasional di tengah ketidakpastian global," papar pria berusia 75 tahun ini. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.